Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

KemenPPPA: Perekonomian Jadi Faktor Kuat Kekerasan terhadap Kaum Perempuan

📅 Minggu, 30 Nov 2025, 16:10 WIB | Oleh:
KemenPPPA: Perekonomian Jadi Faktor Kuat Kekerasan terhadap Kaum Perempuan Doc: Humas Kementerian PPPA
Ket. Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA) Veronica Tan

JAKARTA - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menyoroti tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dipicu oleh faktor ekonomi. Berdasarkan data 2024, KemenPPPA menekankan satu dari dua anak pernah mengalami kekerasan dan satu dari empat perempuan juga pernah mengalami kekerasan.

“Faktanya hari ini sangat memprihatinkan, satu dari dua anak pernah mengalami kekerasan. Sementara, satu dari empat perempuan juga mengalami hal yang sama,” kata Wamen PPPA Veronica Tan dalam keterangannya, Minggu (30/11).

Menurut Veronica, persoalan ekonomi kerap mendorong terjadinya perkawinan anak dan putus sekolah. Ia menegaskan, edukasi dalam keluarga dan penguatan ekonomi menjadi kunci pencegahan kekerasan.

“Dalam kondisi ekonomi sulit, anak laki-laki biasanya dipaksa bekerja, sementara anak perempuan justru dinikahkan lebih cepat. Ini masih menjadi stigma yang kuat di masyarakat,” ucap Veronica.

Sebagai langkah konkret, Kementerian PPPA mendorong kemandirian ekonomi keluarga melalui program berbasis komunitas. Program ini direncanakan terintegrasi dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berbasis potensi dan kearifan lokal.

“Tahun depan kami dari Kementerian PPPA akan mencoba membuat program komunitas. Hal ini dilakukan untuk memperkuat ketahanan keluarga hingga aspek ekonominya,” ucap Veronica Tan.

Sebelumnya, Kementerian PPPA menegaskan perempuan dan anak perempuan masih rentan terhadap ketidakadilan serta kekerasan di berbagai ruang kehidupan sosial. Berbagai bentuk diskriminasi, stereotip, marginalisasi, serta kekerasan berbasis gender masih terus terjadi terhadap kelompok perempuan.

“Perempuan dan anak perempuan hingga hari ini masih menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan dan kekerasan di banyak ruang kehidupan. Mulai dari diskriminasi, stereotip, hingga kekerasan berbasis gender masih terjadi, baik di rumah, di tempat kerja, maupun di ruang publik,” Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan KemenPPPA, Desy Andriani, dalam keterangannya, Jumat (28/11). ils/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

PBB akan Alokasikan Dana untuk 12 Krisis Kemanusiaan

19 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
PBB akan Alokasikan Dana un...
Luar Negeri
Korsel Usulkan Dialog denga...
Luar Negeri
PBB Serukan Negara-negara T...

Wabah Ebola Tewaskan Lebih dari 4.000 Warga di Kongo

42 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
Wabah Ebola Tewaskan Lebih ...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.