• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Ilmuwan Ciptakan Tikus yan...

Ilmuwan Ciptakan Tikus yang Dapat Menstruasi, Bantu Riset Kesehatan Reproduksi Wanita

Selasa, 18 Nov 2025, 07:26 WIB

TEROBOSAN menciptakan tikus yang menstruasi memungkinkan penelitian baru tentang kondisi seperti endometriosis dan perdarahan menstruasi berat. Tikus-tikus ini menunjukkan siklus menstruasi yang sesungguhnya, meluruhkan lapisan rahim mereka.

Inovasi ini menjanjikan revolusi penelitian kesehatan perempuan dan menjembatani kesenjangan pemahaman dalam studi terkait manusia melalui model hewan tikus. Studi ini menawarkan wawasan tentang organisasi seluler menstruasi.

Ket. Foto: Penemuan terbaru tentang menstruasi alami pada tikus berduri Mesir (Acomys cahirinus ) menawarkan model laboratorium baru dengan manfaat signifikan bagi penelitian prospektif di bidang kesehatan wanita. — Sumber: wikimedia commons

Dalam sebuah terobosan ilmiah yang dapat mendefinisikan ulang penelitian kesehatan reproduksi, para ilmuwan Universitas Harvard telah menciptakan tikus menstruasi pertama di dunia. Studi berjudul “Induksi menstruasi pada tikus mengungkapkan regulasi pelepasan menstruasi,” yang dilakukan oleh Dr. Kara McKinley dan timnya di Departemen Sel Punca dan Biologi Regeneratif Harvard, diterbitkan sebagai pracetak di bioRxiv, seperti ditulis Times of India.

Selama beberapa dekade, menstruasi tetap menjadi salah satu proses biologis yang paling kurang dipahami, terutama karena hewan laboratorium tradisional tidak mengalami menstruasi. Dengan merekayasa tikus untuk meluruhkan lapisan rahim mereka secara alami seperti manusia, para peneliti telah membuka bidang baru dalam mempelajari kondisi seperti endometriosis, adenomiosis, dan perdarahan menstruasi berat.

Lompatan Ilmu Reproduksi

Para peneliti di Harvard telah berhasil mengembangkan tikus betina yang mengalami siklus menstruasi alami, termasuk peluruhan lapisan rahim. Hingga saat ini, hanya beberapa spesies, manusia, primata tertentu, dan beberapa kelelawar, yang mengalami menstruasi secara alami.

Upaya sebelumnya untuk menginduksi proses serupa pada hewan pengerat menghasilkan hasil yang terbatas, karena tidak mencakup siklus perdarahan, perbaikan, dan regenerasi secara lengkap.

Tikus baru yang dimodifikasi secara genetik ini menunjukkan semua ciri menstruasi, termasuk kerusakan endometrium, perdarahan, dan pembaruan jaringan. Temuan ini memberi para ilmuwan peluang yang belum pernah ada sebelumnya.

Tikus menstruasi berguna dalam mempelajari mekanisme molekuler dan hormonal yang mengatur menstruasi dan gangguan seperti endometriosis, adenomiosis, dan perdarahan menstruasi berat.

Dr. Kara McKinley, seorang ahli biologi reproduksi dan penulis utama studi ini, menjelaskan bahwa kurangnya model yang andal telah menjadi “hambatan mendasar” dalam memahami biologi menstruasi. Inovasi ini kini dapat membantu para peneliti mengeksplorasi tidak hanya seperti apa menstruasi normal tetapi juga apa yang salah dalam siklus menstruasi yang menyakitkan atau tidak normal.

Cara Menciptakan

Untuk menciptakan tikus yang sedang menstruasi ini, tim Harvard menggunakan teknik kemogenetik, sebuah metode yang memungkinkan pengendalian perilaku sel tertentu menggunakan sinyal kimia. Mereka memasukkan reseptor yang diaktifkan oleh obat ke dalam lapisan rahim tikus, yang memungkinkan sel-sel endometrium merespons sinyal kalsium, sebuah faktor penting dalam proses menstruasi manusia.

Model terobosan ini memungkinkan para peneliti mempelajari biologi menstruasi secara lebih akurat, memberikan peluang baru untuk memahami gangguan seperti endometriosis, infertilitas, dan perdarahan abnormal, serta menguji potensi pengobatan dalam pengaturan yang terkendali.

Ketika sinyal-sinyal ini dikombinasikan dengan peningkatan kadar progesteron, tikus-tikus tersebut mengalami apa yang digambarkan para peneliti sebagai “peristiwa seperti menstruasi yang terkendali dan reversibel” yang berlangsung beberapa hari.

Analisis jaringan mengonfirmasi perdarahan uterus, ekspansi vaskular, dan pola ekspresi gen yang hampir identik dengan yang ditemukan dalam cairan menstruasi manusia. Meskipun tikus-tikus tersebut tidak memiliki struktur tertentu seperti arteri spiralis, fitur kunci dalam menstruasi manusia, tumpang tindih antara ekspresi gen tikus.

Ekspresi gen manusia mencapai 31%, dibandingkan dengan hanya 12% yang diperkirakan secara kebetulan. Hal menjadikan model baru ini sebagai sistem paling akurat dan bernilai ilmiah yang pernah dikembangkan untuk mempelajari menstruasi dalam pengaturan laboratorium.

Penelitian ini diterbitkan sebagai pracetak di bioRxiv; penelitian ini menawarkan wawasan yang luar biasa tentang bagaimana menstruasi diatur pada tingkat seluler. Dengan menggunakan transkriptomik spasial sel tunggal, para ilmuwan menemukan bahwa uterus mempersiapkan menstruasi dengan cara yang sangat terstruktur.

Sel-sel endometrium yang beregenerasi ditemukan membentuk cincin pelindung di sekitar gugusan sel-sel yang mengalami degenerasi, menunjukkan bahwa pengeluaran cairan menstruasi tidaklah acak tetapi terkoordinasi dengan cermat untuk meminimalkan kerusakan jaringan. Para peneliti menemukan bahwa rahim mempersiapkan diri untuk menstruasi dengan cara yang sangat terstruktur.

Sel-sel endometrium yang beregenerasi ditemukan membentuk cincin pelindung di sekitar gugusan sel yang mengalami degenerasi, menunjukkan bahwa pelepasan menstruasi tidak terjadi secara acak, melainkan terkoordinasi dengan cermat untuk meminimalkan kerusakan jaringan. Para peneliti menemukan bahwa rahim mempersiapkan menstruasi dengan cara yang sangat terstruktur.

Sel-sel endometrium yang beregenerasi ditemukan membentuk cincin pelindung di sekitar gugusan sel yang mengalami degenerasi, menunjukkan bahwa pelepasan menstruasi tidak terjadi secara acak, melainkan terkoordinasi dengan cermat untuk meminimalkan kerusakan jaringan. Penemuan semacam itu dapat menjelaskan mengapa pengalaman menstruasi sangat bervariasi antar individu dan membantu menentukan penyebab biologis dari gejala yang parah.

Terobosan ini juga dapat mempercepat pengembangan terapi yang ditargetkan, seperti perawatan berbasis mRNA yang mengatur perdarahan abnormal. Perdarahan menstruasi yang berat memengaruhi hampir satu dari lima wanita, namun perawatan saat ini seringkali bergantung pada supresi hormon atau operasi invasif.

Model tikus baru ini memungkinkan para ilmuwan untuk menguji intervensi medis yang lebih tepat dan kurang berbahaya. Mendefinisikan ulang kedokteran reproduksi dan menutup kesenjangan gender dalam penelitian ilmiah

Penciptaan tikus yang sedang menstruasi bukan hanya sebuah kemenangan bagi biologi, tetapi juga kemenangan simbolis bagi penelitian kesehatan perempuan. Ranah studi ini telah lama kekurangan dana dan kurang diteliti.

Dalam sebagian besar ilmu pengetahuan modern, hewan betina dikecualikan dari eksperimen untuk menghindari “komplikasi” siklus hormonal, yang mengakibatkan data yang mengabaikan separuh populasi manusia.

Meskipun temuan ini masih menunggu tinjauan sejawat, temuan ini merupakan titik balik yang penting. Dengan menawarkan model yang layak untuk mempelajari menstruasi, para ilmuwan kini dapat menyelidiki mengapa beberapa orang mengalami kram parah, gangguan endometrium, atau masalah kesuburan sementara yang lain tidak.

Pada akhirnya, tonggak sejarah ini dapat membentuk kembali perawatan kesehatan reproduksi, memberdayakan perawatan yang lebih baik, dan memastikan bahwa ilmu menstruasi akhirnya mendapatkan perhatian yang layak. hay

  • Tikus Menstruasi

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.