Topan Fung-wong Mendekat, Filipina Peringatkan Adanya Gelombang Badai Mematikan 

Minggu, 09 Nov 2025, 08:29 WIB

MANILA - Biro cuaca Filipina memperingatkan adanya gelombang badai yang mengancam jiwa hingga setinggi 5 meter dan angin kencang yang merusak saat Topan Fung-wong bergerak menuju pantai timur negara itu. Diperkirakan akan meningkat menjadi topan dahsyat sebelum menghantam daratan pada Minggu (9/11) malam.

Sirkulasi besar topan yang mencakup jarak 1.500 km, telah menghantam wilayah Filipina timur dengan hujan lebat dan angin kencang, kata peramal cuaca PAGASA Benison Estareja dalam sebuah pengarahan.

Ket. Foto: Warga membersihkan rumah mereka setelah Topan Kalmaegi menyebabkan kerusakan di Kota Talisay, Provinsi Cebu, Filipina tengah, Rabu, 5 November 2025. — Sumber: AP

"Itu bisa mencakup hampir seluruh negara," kata Estareja.

Fung-wong, warga setempat menyebutnya Uwan, saat ini membawa angin berkecepatan maksimum 140 km/jam dan hembusan hingga 170 km/jam, dan dapat meningkat hingga 185 km/jam saat mendekati daratan, kata Estareja, cukup kuat untuk menghancurkan rumah, menumbangkan pohon dan bangunan.

Curah hujan hingga 200 mm diperkirakan terjadi di provinsi Filipina timur, terutama di wilayah Bicol, serta sebagian Samar, yang akan meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor yang meluas, sementara wilayah utara dan tengah Luzon dapat mengalami curah hujan 100-200 mm selama badai tersebut lewat.

PAGASA mengimbau warga di daerah dataran rendah dan pesisir untuk mengungsi ke dataran tinggi dan menghentikan semua aktivitas laut, memperingatkan adanya gelombang badai yang merusak yang dapat menggenangi masyarakat pesisir, dan memperingatkan adanya angin kencang.

Beberapa pemerintah daerah telah menangguhkan kegiatan belajar-mengajar pada hari Senin, dan maskapai penerbangan nasional Filipina telah membatalkan beberapa penerbangan, menjelang Topan Fung-wong mendarat di wilayah tersebut.

Di provinsi pesisir Aurora, tempat Fung-wong diperkirakan mencapai daratan pada Minggu malam atau Senin pagi, tim penyelamat mendatangi rumah-rumah penduduk untuk mengimbau agar mengungsi.

"Kami melakukan evakuasi dini terhadap warga di daerah-daerah yang berisiko tinggi terkena banjir," ujar petugas penyelamat provinsi Elson Egargue kepada AFP melalui telepon.

Lebih jauh ke selatan, di Catanduanes, sebuah pulau kecil yang menurut dinas cuaca negara bagian dapat terkena "hantaman langsung", penduduk mengikat rumah mereka dan memasang pemberat di atap mereka.

"Mereka memutuskan untuk mengikuti tradisi kami, yaitu mengikat atap dengan tali besar dan menambatkannya di tanah, agar tidak tertiup angin," ujar petugas penyelamat provinsi, Roberto Monterola, kepada AFP.

Peringatan itu muncul beberapa hari setelah Topan Kalmaegi meninggalkan jejak kerusakan di seluruh wilayah, menghancurkan masyarakat pesisir, menumbangkan pohon, serta merusak atap dan jendela.

Kalmaegi menewaskan 204 orang di Filipina, dan 109 orang masih hilang, menurut data terbaru pemerintah.

Pada hari Sabtu, pejabat penyelamat Myrra Daven mengatakan kepada AFP bahwa badai yang mendekat membuat kegiatan pencarian dan penyelamatan dihentikan di provinsi Cebu, tempat hampir 70 persen kematian akibat Kalmaegi di Filipina berada.

"Kami diperintahkan untuk menghentikan sementara pencarian, penyelamatan, dan evakuasi pada pukul 3 sore hari ini," katanya.

"Kita tidak bisa mempertaruhkan keselamatan para penyelamat kita. Kita tidak ingin mereka menjadi korban berikutnya."

Sementara itu, jumlah korban hilang 57 orang menuruut hitungan pemerintah di provinsi yang terkena dampak parah itu kemungkinan akan bertambah, kata Daven.

"Kami perkirakan jumlah ini akan bertambah, karena masih ada wilayah yang belum bisa kami tembus. Beberapa jalur akses masih terblokir tanah dan lain-lain," ujarnya. 

Di Vietnam, setidaknya lima orang tewas saat Kalmaegi melanda pada hari Jumat.

Badan bencana Vietnam melaporkan kerusakan pada hampir 2.800 rumah, dan mengatakan sekitar 500.000 orang masih tanpa listrik. 

Vietnam dan Filipina sangat rentan terhadap badai tropis dan topan karena lokasinya di sepanjang sabuk topan Pasifik, yang secara teratur mengalami kerusakan dan korban jiwa selama musim puncak badai.

Di Thailand, dampak berkepanjangan Kalmaegi menyebabkan hujan lebat dan banjir lokal di beberapa wilayah timur laut dan tengah.

Para ilmuwan telah memperingatkan bahwa badai seperti Kalmaegi menjadi lebih kuat seiring meningkatnya suhu global.

  • Topan Fung-wong

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.