KKP Kembangkan Banda Neira Jadi Model Integrasi Laut dan Budaya
Senin, 27 Okt 2025, 11:52 WIBJAKARTA â Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menetapkan Banda Neira, Maluku, sebagai model integrasi antara konservasi laut, arkeologi, dan budaya maritim melalui program Laut untuk Kesejahteraan (Lautra).
Kawasan ini diproyeksikan menjadi laboratorium ekonomi pesisir yang menyeimbangkan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat pesisir.
âProgram Lautra menempatkan Banda Neira sebagai kawasan prioritas karena memiliki kekayaan ekosistem laut sekaligus nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Kami ingin membangun model pengelolaan laut yang tidak hanya lestari, tetapi juga mensejahterakan," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, dikutip dari siaran resmi di Jakarta, Senin (27/10).
Koswara menyebutkan program Lautra mencakup 11 provinsi, 20 kawasan konservasi, dan 3 wilayah pengelolaan perikanan dengan total area mencapai 8,3 juta hektare.
Melalui empat komponen utama yakni penguatan kelembagaan konservasi, pembangunan ekonomi lokal, pembiayaan berkelanjutan (blue financing), dan manajemen proyek terpadu, KKP menargetkan lebih dari 75 ribu penerima manfaat langsung, termasuk 30 persen kelompok perempuan pesisir.
Banda Neira dinilai sebagai pusat pengembangan ekonomi pesisir berkelanjutan yang memadukan alam dan budaya.
KKP bersama mitra akademik mendorong pengembangan lima pilar utama, yakni diversifikasi ekowisata bertema sejarah dan bahari, pembentukan koperasi wisata maritim, pembangunan infrastruktur ekonomi lokal seperti dermaga wisata dan museum budaya laut, hingga pelatihan masyarakat menjadi storyteller dan pemandu wisata budaya bersertifikat.
Direktur Jasa Bahari Ditjen Pengelolaan Kelautan KKP Enggar Sadtopo menyampaikan bahwa pendanaan program dilakukan melalui tiga skema hibah, mulai dari micro grant senilai Rp150 juta hingga matching grant sebesar Rp1,25 miliar.
"Kami ingin memastikan ekonomi tumbuh tanpa merusak laut," ujarnya.
Rektor Universitas Banda Neira, Muhammad Farid, menyebut Banda Neira sebagai "laboratorium hidup" pembangunan berkelanjutan yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Sementara itu, Kastana Sapanli dari IPB University menekankan potensi Banda Neira sebagai bagian dari coral triangle dan spice islands, yang ideal untuk pengembangan eco-diving, heritage spice tourism, dan agrowisata pala.
- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
- Banda Neira
Redaktur: Bambang Wijanarko
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Bukan Sekadar Panas! Jakarta Jadi Kota Paling Berpolusi Ketiga di Dunia Pagi Ini
-
Pemutaran Perdana Film “Laut Bercerita” Disambut Hangat di Ajang BIFF 2026
-
Chery Freelander Akan Masuk ke Indonesia pada 2027
-
Nilai Ekspor Tilapia RI Tertinggi di Dunia, Tapi Pasar Eropa Baru 8,1 Persen
-
Janice/Hunter Melaju ke Final Ganda Japan Open 2026
-
Ekspor Tilapia Indonesia Capai Rp1,58 Triliun, Kemitraan dengan Investor Eropa Terus Dibuka
-
KKP Kawal Ketat Izin Laut KNMP Biar Tak Tabrak Tata Ruang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.