Kopi Eksotis dari Tanah Borneo, Liberika Kaltim Siap Jadi Bintang Baru

Rabu, 01 Okt 2025, 21:25 WIB

SAMARINDA – Kalimantan Timur (Kaltim) ternyata punya modal besar untuk ikut meramaikan pasar kopi nasional, bahkan global, lewat kopi liberika.

Jenis kopi ini punya karakter khas yang berbeda dari arabika maupun robusta, dan justru cocok dengan agroekosistem Kaltim. Asalnya dari Afrika Barat (Liberia, sesuai namanya) dan mulai menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Ket. Foto: Ilustrasi - Pekerja Kampung Kopi Luwak memegang bijih kopi Liberika yang hendak dipanen di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. — Sumber: ANTARA/Muzdaffar Fauzan

Di Indonesia, liberika dikenal juga sebagai “kopi eksotis” dan cukup populer di beberapa daerah seperti Jambi, Riau, dan Kalimantan. Kopi ini sering jadi identitas daerah karena profil rasanya yang berbeda dari kopi mainstream.

Kalau potensi ini digarap serius, bukan hanya bisa memperluas diversifikasi kopi Indonesia, tapi juga jadi peluang ekonomi baru bagi petani lokal sekaligus memperkuat identitas kopi Kaltim di peta industri kopi dunia.

Ketua Harian Forum Komunikasi Perkebunan Berkelanjutan (FKPB) Yus Alwi Rahman, di Samarinda, Rabu (1/10), menjelaskan salah satu keunggulan utama liberika adalah sifatnya yang sangat adaptif. Kopi ini cepat beradaptasi terhadap kondisi lahan dan iklim tropis, menjadikannya ideal untuk ditanam di berbagai wilayah di Kaltim.

“Dulu, orang hanya mengenal kopi arabika dan robusta. Tapi ternyata di Kalimantan Timur sudah ada liberika dengan cita rasa yang khas dan unik, dengan aroma yang kuat dan rasa yang lebih berani. Ini memberikan nilai tambah dalam upaya diversifikasi produk kopi kita,” ujar Yus Alwi mewakili Plt Kepala Dinas Perkebunan Kaltim, dalam acara Bincang Komoditas Perkebunan Lestari Kalimantan Timur (BINGKA KALTIM) seri ke-9 yang diadakan secara virtual.

Selain keunggulan agronomis, liberika Kaltim juga memiliki potensi pasar yang luas, baik di tingkat domestik maupun global, seiring dengan meningkatnya minat konsumsi terhadap kopi spesial.

Untuk mewujudkan potensi ini, pengembangan Kopi liberika di Kaltim perlu dilakukan secara komprehensif dari hulu hingga hilir.

Yus Alwi menyoroti bahwa berdasarkan RTRWP tahun 2016, potensi lahan untuk perkebunan di Kaltim sangat luas, mencapai 3,2 juta hektare.

“Namun, data saat ini menunjukkan adanya penurunan drastis luas lahan kopi di Kaltim, di tahun 2000-an, luas kopi Kaltim masih lebih dari 4.000 hektare. Posisi sekarang, luas kopi di Kaltim hanya tinggal 1.300 hektare," ujarnya pula.

Oleh karena itu, kegiatan diskusi ini dinilai sebagai momen penting untuk mengembalikan kejayaan kopi, terutama melalui produksi kopi liberika yang memiliki potensi besar.

"Mudah-mudahan kopi kita memiliki progres pertumbuhan yang lebih baik di masa akan datang," katanya lagi.

Beberapa daerah di Kaltim telah menunjukkan potensi besar dalam pengembangan kopi liberika, di antaranya Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, dan Samarinda.

Pengembangan kopi liberika diharapkan dapat menjadi motor baru penggerak ekonomi perkebunan di Kaltim, sekaligus memperkaya keragaman produk kopi Indonesia.

Kegiatan diskusi menghadirkan narasumber dari Direktorat Perbenihan Perkebunan, Ditjenbun Kementan Santi Fitria Sari, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia Ari Wibowo, Asosiasi Cafe dan Barista Kaltim Didin Hamid, dan Praktisi/Pelaku Usaha Kopi Slamet Prayoga.

  • kopi liberika

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.