Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pasokan Melimpah, Permintaan Seret: HR Biji Kakao Anjlok!

📅 Selasa, 30 Sep 2025, 22:32 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pasokan Melimpah, Permintaan Seret: HR Biji Kakao Anjlok! Doc: ANTARA/ Siswowidodo
Ket. Ilustrasi - Petani memilah biji kakao di Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

JAKARTA – Harga referensi (HR) biji kakao menjadi acuan penting dalam menjaga stabilitas perdagangan komoditas ini, baik untuk kepastian petani maupun industri pengolahan.

HR biji kakao berfungsi menyeimbangkan kepentingan hulu-hilir: ketika harga global berfluktuasi, harga referensi bisa melindungi petani dari harga terlalu rendah sekaligus memastikan industri tetap memiliki pasokan dengan harga yang wajar.

Di sisi lain, konsistensi penetapan HR biji kakao yang adaptif terhadap tren pasar internasional juga krusial agar daya saing kakao Indonesia tetap terjaga di pasar global

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut penurunan HR biji kakao pada periode Oktober 2025 dipengaruhi peningkatan pasokan tanpa adanya kenaikan permintaan.

Plt Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Tommy Andana menyampaikan HR biji kakao periode Oktober 2025 ditetapkan sebesar 7.458,83 dolar AS per MT, turun sebesar 715,90 dolar AS atau 8,76 persen dari bulan sebelumnya.

"Penurunan HR biji kakao dipengaruhi peningkatan pasokan dari negara produsen utama yang tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan," ujar Tommy dalam keterangan di Jakarta, Selasa (30/9).

Tommy menjelaskan penurunan ini berdampak pada harga patokan ekspor (HPE) biji kakao pada Oktober 2025 yang turun menjadi 7.047 dolar AS per MT, turun 696 dolar AS atau 8,99 persen dari periode sebelumnya.

Namun, penurunan HR dan HPE biji kakao tidak berdampak pada bea keluar (BK) biji kakao yang tetap 15 persen.

Hal tersebut sesuai Kolom 4 Lampiran Huruf B pada PMK Nomor 38 Tahun 2024.

Sementara itu, HPE produk kulit; HPE pada kayu keping atau pecahan (wood in chips or particle), keping kayu (chipwood), dan kayu olahan dengan luas penampang 1.000-4.000 mm2 dari sortimen lainnya dari hutan tanaman jenis sungkai; dan HPE kayu olahan khusus jenis merbau dengan luas penampang 4.000-10.000 mm2 periode Oktober 2025 tidak berubah dari September 2025.

Namun, ada peningkatan HPE untuk kayu olahan dengan luas penampang 1.000-4.000 mm2 dari jenis merbau, sortimen lainnya jenis eboni, hutan tanaman dari jenis akasia, sengon dan balsa, kayu putih (Eucalyptus), dan lainnya.

Sedangkan, terjadi penurunan HPE pada kayu veneer dari hutan alam dan hutan tanaman; kayu lapis untuk kotak kemasan (wooden sheet for packing box); dan kayu olahan dengan luas penampang 1.000-4.000 mm2 dari jenis meranti, rimba campuran, sortimen lainnya jenis jati, hutan tanaman jenis pinus, gemelina, dan karet.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

KPK Berharap Nusron Wahid Kooperatif

33 menit yang lalu | Ones

Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

41 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

41 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.