Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Modal Asing Kabur Rp2,71 Triliun, Rupiah Tembus Rp16.750 per Dolar AS

📅 Minggu, 28 Sep 2025, 15:30 WIB | Oleh:
Modal Asing Kabur Rp2,71 Triliun, Rupiah Tembus Rp16.750 per Dolar AS Doc: Jakarta Globe

JAKARTA – Indonesia mencatat arus keluar modal asing bersih senilai Rp2,71 triliun atau sekitar 162 juta dolar AS pada pekan keempat September 2025. Data Bank Indonesia menunjukkan tren ini menambah tekanan di pasar keuangan domestik.

Pada periode 22–25 September 2025, investor nonresiden mencatat penjualan bersih Rp2,16 triliun di Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp5,06 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Angka tersebut sedikit tertutupi pembelian bersih Rp4,51 triliun di pasar saham.

Kondisi ini berimbas pada meningkatnya risiko pasar. Hingga 25 September, spread credit default swap (CDS) lima tahun Indonesia naik ke 83,18 basis poin dibandingkan 69,59 poin pada 19 September.

Secara kumulatif, sepanjang tahun berjalan 2025, pasar modal Indonesia masih mencatat tekanan signifikan. Tercatat arus keluar bersih Rp51,34 triliun dari saham dan Rp128,85 triliun dari SRBI, sedangkan SBN justru masih membukukan aliran masuk Rp36,25 triliun.

Nilai tukar rupiah juga tertekan. Pada 25 September, rupiah ditutup di level Rp16.735 per dolar AS, sementara imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik ke 6,40 persen.

Pada hari yang sama, indeks dolar AS menguat ke 98,55 dengan yield US Treasury 10 tahun menanjak ke 4,17 persen. Kondisi global ini semakin mempersempit ruang gerak rupiah di pasar valuta asing.

Sehari berikutnya, rupiah dibuka lebih lemah di posisi Rp16.750 per dolar AS. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun juga naik tipis ke 6,43 persen.

Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas pasar keuangan. “Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal Indonesia,” kata juru bicara BI, Ramdan Denny Prakoso, Sabtu (27/9).

Data terbaru ini memperlihatkan tantangan besar bagi pasar keuangan Indonesia. Investor global terus mencermati premi risiko, pergerakan mata uang, dan dinamika suku bunga di dalam negeri maupun luar negeri.

Situasi tersebut membuat posisi rupiah semakin rawan fluktuasi. Kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat menambah tekanan terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang termasuk Indonesia.

Jika tren ini berlanjut, potensi aliran keluar modal asing masih terbuka lebar. Pasar akan menanti langkah kebijakan moneter lebih lanjut untuk menahan pelemahan rupiah sekaligus menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Serangan Houthi Meningkat, ...

Kesialan Persebaya atau Dewi Fortuna bagi PSM?

32 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Kesialan Persebaya atau Dew...
Olahraga
Mulai 2027, Aturan Pelacaka...
Advertisement
Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.