Pertumbuhan Harus Ditingkatkan Sesuai dengan Kapasitas Perekonomian
Kamis, 18 Sep 2025, 01:05 WIBYOGYAKARTA - Harapan terjadinya perbaikan pertumbuhan ekonomi nasional pada semester II 2025 akan sangat bergantung pada sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang dijalankan secara tepat sasaran.
Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata di Yogyakarta, Rabu (17/9) mengatakan bahwa belanja fiskal yang meningkat akan berdampak signifikan jika diarahkan pada sektor-sektor strategis yang berpotensi memacu produktivitas.
Selain itu, insentif perpajakan seperti PPh maupun PPN perlu dikelola secara jeli agar benar-benar mendorong pemulihan daya beli, terutama di kalangan masyarakat kelas menengah.
âPemerintah dituntut untuk benar-benar menelisik secara jeli dan jujur sektor-sektor mana yang dapat mendorong produktivitas ekonomi nasional. Dengan kata lain, tidak boleh terulang langkah-langkah yang grasa-grusu,â kata Aloysius.
Menurutnya, belanja fiskal yang efektif harus berjalan seiring dengan kebijakan moneter yang mendukung. Penurunan suku bunga dan kucuran likuiditas ke perbankan, kata dia, seharusnya ditempatkan sebagai respons atas peningkatan produktivitas dan daya beli masyarakat, bukan sekadar memperbesar volume kredit.
Aloysius menambahkan, sinergi fiskal-moneter tersebut akan sulit berjalan tanpa pembenahan hambatan kelembagaan. Ia menyoroti pentingnya koreksi atas berbagai faktor yang masih memicu ekonomi biaya tinggi.
âIsu-isu kelembagaan seperti kepastian hukum, tata pemerintahan yang baik, maupun konsistensi kebijakan harus benar-benar diperbaiki. Setidaknya, arah kebijakan ekonomi harus menuju perbaikan yang bersifat substansial,â katanya.
Dengan langkah-langkah tersebut, Aloysius meyakini bahwa target pertumbuhan ekonomi pada semester II 2025 sebagaimana diproyeksikan Bank Indonesia dapat lebih mudah tercapai.
Rekan Aloysius, Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan, Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter yang independen dan bertugas dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui stabilitas inflasi, juga wajib berkoordinasi dengan Pemerintah mendorong pertumbuhan.
Investasi Diperkuat
Gubernur BI, Perry Warjiyo saat menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI September 2025 mengaku optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II 2025 akan membaik, sehingga secara keseluruhan pada tahun ini akan berada di atas titik tengah rentang 4,6 sampai 5,4 persen.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia kata Perry perlu makin ditingkatkan agar sesuai dengan kapasitas perekonomian.
Pada triwulan III 2025, catat Perry, sejumlah indikator menunjukkan konsumsi rumah tangga masih belum kuat dipengaruhi oleh menurunnya ekspektasi konsumen khususnya pada kelompok menengah ke bawah serta terbatasnya ketersediaan lapangan kerja.
âInvestasi juga perlu terus diperkuat melalui percepatan realisasi berbagai program prioritas Pemerintah, termasuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di berbagai daerah,â kata Perry.
Sementara itu, ekspor diperkirakan lebih baik ditopang oleh kenaikan ekspor produk pertanian dan manufaktur, khususnya komoditas minyak kelapa sawit (CPO) ke India seiring penurunan bea impor.
Bank Sentral katanya akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan stimulus fiskal dan sektor riil untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Demi Laga Persita Tangerang vs Persija Jakarta, 1.403 Personel Diterjunkan Amankan Pertandingan
-
Libur Lebaran, Telaga Sarangan Diserbu Hampir 70 Ribu Pengunjung
-
Seabad NU, Menag Nasaruddin Umar Nilai NU Matang Siap Hadapi Tantangan
-
Arus Mudik H-2 Lebaran 2026 Padat Merayap
-
Sesar Lembang: Tiga Zona Kerentanan dari Hulu ke Hilir
-
Liga Champions: Gol Penalti Yamal Selamatkan Barcelona dari Kekalahan di Kandang Newcastle
-
Tak Sekadar EV, Bahlil Klaim Proyek Baterai Huayou Jadi Penopang 100 GW PLTS
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.