Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kencur dan Jahe Jadi Andalan Ekonomi Masyarakat Badui, Kualitas Dijamin karena tanpa Pupuk Kimia

📅 Minggu, 14 Sep 2025, 13:07 WIB | Oleh:
Kencur dan Jahe Jadi Andalan Ekonomi Masyarakat Badui, Kualitas Dijamin karena tanpa Pupuk Kimia Doc: antara foto
Ket. Hasil bumi masyarakat Badui yang menjadi andalan ekonomi mereka.

RANGKASBITUNG - Komoditas kencur dan jahe hingga kini menjadi andalan ekonomi masyarakat Suku Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, dari hasil pertanian ladang.

“Masyarakat Suku Badui sejak sepekan terakhir beramai-ramai untuk melaksanakan percepatan tanam kencur,jahe dan pisang, karena memasuki kalender adat bulan delapan,” kata Sekretaris Desa Kanekes Kabupaten Lebak Medi saat dihubungi di Rangkasbitung, Lebak, Minggu (14/9).

Masyarakat Badui melaksanakan pertanian kencur, jahe dan pisang di ladang-ladang di kawasan tanah ulayat adat juga ada di luar tanah ulayat adat dengan sistem sewa lahan.

Selama ini, komoditas tanaman kencur, jahe dan pisang menjadi unggulan ekonomi masyarakat Badui dengan waktu satu tahun bisa dipanen.

Masyarakat Badui berpenduduk 7.500 kepala keluarga (KK) tersebar di 68 perkampungan, termasuk Badui Dalam yang kini melaksanakan percepatan tanam di ladang-ladang. Sebab, saat memasuki kalender adat pada bulan delapan, mereka biasanya memang menanamkan tiga komoditas tanaman andalan ekonomi bagi masyarakat Suku Badui itu.

Sedangkan, di bulan sembilan atau Oktober 2025, masyarakat Badui melaksanakan tanam padi huma di ladang.

Pertanian masyarakat Badui dilakukan sistem tanam tumpang sari dengan menanam aneka komoditas tanaman di kawasan lahan itu seperti jahe, kencur, pisang, jagung, terung, cabai, padi huma, tebu telur atau turubuk dan Albasia.

Dengan tanam tumpang sari itu, menurut Medi, bisa menghasilkan pendapatan ekonomi dari hasil panen bulanan, tiga bulan, enam bulan, satu tahun dan lima tahun.

Namun, pendapatan unggulan masyarakat Badui itu komoditas kencur, jahe, dan pisang.

Saat ini, menurut Medi, harga kencur ditingkat petani menembus Rp25 ribu per kilogram (kg), jahe Rp15 ribu per kg, dan pisang beragam dan tergantung jenisnya, seperti pisang ambon Rp50 ribu per turuy (tandan).

Bahkan, petani Badui dari tanam kencur dengan produksi 1 ton per hektare dan harga Rp25 ribu per kg, sehingga bisa menghasilkan uang Rp25 juta.

"Saya kira komoditas kencur saja sudah bisa membawa kesejahteraan keluarga dan belum ditambah pendapatan tanaman lainnya," katanya.

Pulung, salah satu petani Badui mengatakan dirinya melaksanakan pertanian kencur, jahe dan pisang untuk penghasilan ekonomi tahunan yang bisa dijadikan unggulan.

Sebab, tanaman tersebut memasuki usia panen rata-rata satu tahun dari hari setelah tanam (HST).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Daerah
Eri Cahyadi Tegaskan Tak Ad...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.