Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Deindustrialisasi dan Deflasi Bisa Timbulkan Masalah Sosial Baru

📅 Kamis, 11 Sep 2025, 01:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Deindustrialisasi dan Deflasi Bisa Timbulkan Masalah Sosial Baru Doc: istimewa
Ket. Imron Mawardi Guru Besar Ekonomi dari Universitas Airlangga - Pemerintah harus melakukan penanganan deindustrialisasi dan deflasi ini, karena dalam jangka panjang, itu akan menyebabkan pengangguran.

JAKARTA - Deindustrialisasi dinilai menyebabkan perubahan struktural pada ketenagakerjaan Indonesia. Hal itu menyebabkan banyak pekerja beralih sebagai pekerja informal atau pekerja gig economy.

Direktur Program Institute for Development of Economics & Finance (Indef) Eisha Maghfiruha Rachbini mengatakan kebijakan yang tidak sinkron dan tidak adanya strategi khusus untuk menumbuhkan industri manufaktur, menyebabkan kontribusinya (terhadap produk domestik bruto/PDB) terus menurun.

“Ini menyebabkan adanya perubahan struktural dari tenaga kerja Indonesia. Ketika ada penurunan kontribusi dan peran industri manufaktur, mereka yang bekerja di sektor industri ini beralih ke sektor lain, di sektor jasa dan banyak yang bekerja di sektor informal,” kata Eisha.

Deindustrialisasi juga katanya menjadi penyebab dari tidak meningkatnya upah riil, mengingat industrialisasi atau sektor manufaktur merupakan penopang di negara-negara terutama negara maju.

Eisha mengatakan pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada industrialisasi dapat memberikan nilai tambah yang tinggi terhadap produk jadi (output) yang dihasilkan.

Namun, berdasarkan data Indef, kontribusi industri manufaktur terhadap PDB Indonesia hanya 18,98 persen. Kontribusi penyerapan tenaga kerja pada industri pengolahan pun menurun dari 13,83 persen di tahun 2014, menjadi 13,63 persen tahun lalu.

Dengan beralihnya tenaga kerja Indonesia dari sektor industri ke sektor informal, Eisha menilai hal itu memberikan ketidakstabilan atas jaminan penghidupan atau pekerjaan yang layak bagi pekerja.

“Sektor informal juga memberikan pendapatan, tapi secara jaminan kesejahteraan, ini sangat tidak stabil karena sewaktu-waktu mereka bisa bekerja, sewaktu-waktu mereka tidak bekerja, tidak mendapatkan pendapatan. Ini akan memberikan dampak terhadap daya beli masyarakat,” ujar Eisha.

Untuk itu, ia meminta pemerintah agar fokus untuk membuka seluas-luasnya lapangan kerja. Terlebih, masyarakat juga menuntut hal tersebut melalui “17+8” dan pemerintah merespons dengan reshuffle atau penyegaran kabinet.

Turunkan Investasi

Sementara itu, Guru Besar Ekonomi dari Universitas Airlangga, Imron Mawardi, mengatakan, bila berlanjut dalam jangka panjang, deindustrialisasi dan deflasi yang terjadi akhir-akhir ini bisa berdampak serius termasuk gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menimbulkan problem sosial baru.

“Tren ini harus menjadi alarm bagi pemerintah. Pemerintah harus melakukan penanganan deindustrialisasi dan deflasi ini, karena dalam jangka panjang, itu akan menyebabkan pengangguran,” kata Imron.

Deflasi sendiri dapat menurunkan investasi, terutama di sektor konsumsi. Sementara ekonomi Indonesia didominasi konsumsi rumah tangga. Pemerintah perlu memastikan bahwa PHK tidak banyak terjadi. Industri dalam negeri harus produktif dengan mematikan deindustrialisasi.

“Anak muda sendiri harus lebih inovatif, bukan hanya sebagai mencari kerja, tapi jadilah job enabler. Produktifnya industri dapat membuka lapangan kerja baru sehingga meningkatkan masyarakat yang berpendapatan,” kata Imron.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
DKI Jakarta Benahi Kabel Se...

Arema FC Mengikuti Langkah PSIM, Memecat Pelatih

47 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Arema FC Mengikuti Langkah ...
Megapolitan
Rano karno Buka Jakarta Fin...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.