Ubi Jalar Bukan Sekadar Camilan, Bappenas Siap Dorong Jadi Komoditas Strategis

Rabu, 10 Sep 2025, 17:20 WIB

JAKARTA – Pengembangan ubi jalar memiliki arti penting baik dari sisi ketahanan pangan, ekonomi, maupun gizi masyarakat.

Sebagai salah satu komoditas lokal yang mudah dibudidayakan di berbagai jenis lahan, ubi jalar dapat menjadi alternatif sumber karbohidrat selain beras dan gandum.

Ket. Foto: Menteri PPN/ Kepala Bappenas Rachmat Pambudy saat peresmian Padjadjaran Center of Sweet Potato Research and Innovation Excellence (PRAISE) di Universitas Padjadjaran, Jawa Barat, Selasa (9/9/2025). — Sumber: ANTARA/ HO-Bappenas

Hal ini sangat relevan untuk mengurangi ketergantungan impor pangan pokok, terutama gandum yang seluruhnya masih dipasok dari luar negeri.

Dengan diversifikasi pangan berbasis ubi jalar, Indonesia bisa memperkuat kemandirian pangan sekaligus menekan kerentanan terhadap gejolak harga global.

Dari aspek ekonomi, ubi jalar berpotensi meningkatkan pendapatan petani karena siklus tanamnya yang relatif singkat dan kebutuhan pasarnya yang terus tumbuh, baik dalam bentuk segar maupun olahan.

Industri makanan, pakan ternak, hingga bioenergi juga dapat menyerap hasil produksi ubi jalar, sehingga rantai nilai komoditas ini semakin luas.

Jika dikembangkan dengan sistem agribisnis terintegrasi, ubi jalar bisa menjadi komoditas ekspor bernilai tambah tinggi, bukan sekadar produk primer.

Selain itu, ubi jalar memiliki keunggulan dari sisi kandungan gizi, terutama sebagai sumber serat, vitamin, dan antioksidan yang mendukung pola hidup sehat. Hal ini sejalan dengan tren konsumsi pangan fungsional yang makin diminati masyarakat global.

Karena itu, pengembangan ubi jalar tidak hanya soal peningkatan produksi, tetapi juga inovasi teknologi budidaya, diversifikasi produk olahan, dan promosi konsumsi.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/ Bappenas) Rachmat Pambudy mengatakan ubi jalar layak didorong sebagai komoditas unggulan.

“Ubi jalar memiliki potensi nilai tambah yang tinggi sehingga layak didorong sebagai komoditas unggulan, tidak hanya untuk mendukung ketahanan pangan, tetapi memperkuat transformasi pangan nasional,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (10/9).

Saat meresmikan Padjadjaran Center of Sweet Potato Research and Innovation Excellence (PRAISE) di Universitas Padjadjaran, Jawa Barat, Rachmat Pambudy menyebutkan pengembangan ubi jalar menjadi langkah strategi tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025-2029, khususnya prioritas pengembangan pangan lokal dan nabati.

Data Badan Pangan Nasional menunjukkan konsumsi pangan masyarakat Indonesia masih didominasi padi-padan. Pada tahun 2024, konsumsi ubi jalar hanya 3,1 kilogram (kg)/kapita/tahun, jauh di bawah konsumsi beras yang mencapai 92,1 kg/kapita/tahun.

Padahal, ubi jalar disebut kaya serat, karbohidrat kompleks, dan memiliki indeks glikemik rendah yang baik bagi kesehatan.

Di sisi lain, produksi ubi jalar nasional pada 2024 hanya sebesar 1,38 juta ton dan cenderung menurun berdasarkan data Kementerian Pertanian, sehingga perlu penguatan dari sisi produksi hingga konsumsi.

Rachmat Pambudy menyampaikan bahwa ubi jalar menjadi salah satu sumber karbohidrat dengan potensi luar biasa. Adapun langkah yang dilakukan saat ini oleh pemerintah menjadi awal untuk membangun pusat ubi jalar nasional yang kelak dapat berkembang menjadi pusat ubi jalar internasional.

“Inilah revolusi pangan Indonesia, revolusi pertanian Indonesia, yang dapat memberi kontribusi bagi dunia. Sudah saatnya kita membangun peradaban baru melalui revolusi pangan yang lahir dari karya para ahli Indonesia, berbasis pada plasma nutfah asli Indonesia,” ungkap Menteri PPN.

Kepala Bappenas turut mengisi Kuliah Umum Universitas Padjadjaran Science Talk dengan tema “Sweet Potato: Science Bridging to Policy”, yang membahas peran strategis kebijakan diversifikasi pangan dalam mendukung kedaulatan nasional.

“Ubi jalar tidak hanya berhenti sebagai plasma nutfah, tetapi dengan riset dan pengembangan oleh para peneliti kita. Ubi jalar dapat menghadirkan nilai tambah yang besar. Pertanian berbasis ubi jalar ini dapat memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus memberikan kontribusi global, dan saya bersyukur dapat menjadi bagian dari upaya besar ini,” ucap dia.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.