Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

KAI Akui Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung Alami Tekanan Keuangan Berat

📅 Kamis, 21 Agu 2025, 17:45 WIB | Oleh:
KAI Akui Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung Alami Tekanan Keuangan Berat Doc: Jakarta Globe
Ket. Pengunjung berswafoto di depan kereta cepat Jakarta-Bandung di Stasiun Halim, Jakarta Timur.

JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengakui bahwa proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh sedang menghadapi tekanan finansial yang serius. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, bahkan menyebut kondisi tersebut berpotensi menjadi bom waktu bagi keberlangsungan proyek strategis nasional itu.

Proyek kereta cepat ini dikelola oleh PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), sebuah perusahaan patungan yang dianggap sebagai program unggulan pemerintahan Presiden Joko Widodo. KCJB juga tercatat sebagai proyek kereta cepat pertama di kawasan Asia Tenggara yang menjadi simbol modernisasi transportasi di Indonesia.

Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR pada Rabu, Bobby menuturkan dirinya baru mengetahui secara rinci mengenai masalah finansial dan operasional yang dialami KAI maupun KCIC setelah resmi menduduki jabatan sebagai direktur utama.

"Kami yakin dalam waktu satu minggu, kami dapat memahami secara menyeluruh tantangan yang ada di KAI. Kami juga tengah mempelajari persoalan di KCIC yang, sebagaimana telah disebutkan, memang menyerupai bom waktu," kata Bobby di hadapan anggota dewan.

KCIC memiliki struktur kepemilikan 60 persen dari Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), sebuah konsorsium berisi empat perusahaan pelat merah. Sementara itu, 40 persen sisanya dikuasai oleh lima perusahaan asal Tiongkok, dengan KAI sebagai pemegang saham terbesar di PSBI sebesar 58,53 persen sehingga menjadi pihak yang paling besar menanggung kerugian.

Sejak resmi beroperasi untuk publik pada Oktober 2023, kereta cepat Whoosh mendapat perhatian luas dari masyarakat. Namun, antusiasme publik tersebut belum sebanding dengan pertumbuhan jumlah penumpang dan pendapatan tiket yang masih jauh dari cukup untuk menutup biaya operasional dan pembiayaan proyek.

Pada semester pertama 2025, KCIC melaporkan kerugian mencapai Rp 1,6 triliun atau sekitar 100 juta dolar AS. Dari jumlah tersebut, KAI harus menanggung beban kerugian senilai Rp 951,48 miliar, meskipun angka ini lebih rendah dibandingkan kerugian pada periode yang sama di 2024 yang mencapai Rp 2,4 triliun.

Sepanjang tahun 2024, PSBI secara keseluruhan mengalami kerugian hingga Rp 4,2 triliun. Dari total tersebut, KAI menyerap kerugian sebesar Rp 2,23 triliun, sementara sisanya ditanggung oleh BUMN lainnya, yaitu Wijaya Karya, Jasa Marga, serta Perkebunan Nusantara VIII.

Bobby menegaskan bahwa KAI akan melakukan koordinasi dengan Danantara, lembaga pengelola dana abadi atau sovereign wealth fund milik Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk mencari solusi jangka panjang atas kesulitan keuangan yang dihadapi KCIC agar proyek kereta cepat tetap dapat beroperasi secara berkelanjutan.

Kondisi ini menegaskan bahwa meskipun proyek KCJB merupakan terobosan besar di sektor transportasi, tantangan finansial tetap menjadi ancaman serius yang perlu segera diatasi. Dengan beban kerugian yang terus menumpuk, keberlangsungan operasional Whoosh sangat bergantung pada langkah penyelamatan finansial yang akan diambil pemerintah bersama BUMN terkait.

Pemerintah sebelumnya mendorong KCJB sebagai proyek simbol kemajuan infrastruktur dan konektivitas antarwilayah. Namun, fakta kerugian besar yang ditanggung KAI dan perusahaan pelat merah lain menimbulkan perdebatan mengenai efektivitas dan keberlanjutan pembiayaan proyek strategis tersebut di masa depan.

Ke depan, semua pihak menanti upaya penyelamatan yang bisa menjaga stabilitas finansial KCIC. Jika solusi tepat dapat ditemukan, proyek Whoosh tetap berpeluang menjadi tonggak penting modernisasi transportasi Indonesia tanpa meninggalkan beban berat pada keuangan negara.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.