Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tarif AS Beri Peluang Relokasi Investasi ke Indonesia, Asal Iklim Usaha Dibenahi

📅 Kamis, 07 Agu 2025, 14:30 WIB | Oleh:
Tarif AS Beri Peluang Relokasi Investasi ke Indonesia, Asal Iklim Usaha Dibenahi Doc: Jakarta Globe

JAKARTA - Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menyebut kebijakan tarif impor Amerika Serikat bisa menjadi peluang emas bagi Indonesia untuk menarik relokasi pabrik dari negara-negara yang terdampak tarif tinggi, terutama di tengah ketegangan dagang antara Washington dan Beijing. Ia menilai perusahaan asing akan mempertimbangkan memindahkan basis produksi ke Indonesia untuk menghindari lonjakan tarif yang dikenakan oleh AS.

Mulai 7 Agustus, Indonesia akan dikenakan tarif 19 persen untuk ekspor ke pasar AS, salah satu yang terendah di kawasan ASEAN bersama Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Filipina. Sementara itu, dua pesaing utama Indonesia di sektor garmen, yakni Tiongkok dan Bangladesh, menghadapi tarif lebih tinggi masing-masing sebesar 30 persen dan 20 persen.

Perbedaan 11 poin persentase antara tarif Indonesia dan Tiongkok menjadi penting, mengingat tarif Tiongkok saat ini merupakan hasil dari kesepakatan damai yang rapuh dengan Amerika, yang akan berakhir pada 12 Agustus. Sebelumnya, tarif untuk produk dari Tiongkok bahkan sempat mencapai 145 persen sebelum penurunan sementara.

Berbicara dalam forum bisnis Jepang di Jakarta, Chatib yang kini menjadi penasihat ekonomi Presiden Prabowo Subianto, mengatakan kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump ditambah perang dagang dengan Tiongkok bisa memicu arus masuk investasi ke Indonesia. Ia menekankan bahwa para investor asing cenderung ingin mendiversifikasi lokasi produksi untuk meminimalisir risiko.

"Para investor akan mengamati situasi tarif ini ketika memproduksi barang. Mereka akan berpikir bahwa akan lebih baik jika mengalihkan investasi dari negara dengan tarif tinggi ke negara dengan tarif lebih rendah. Inilah peluang relokasi yang sesungguhnya," kata Chatib dalam konferensi tersebut.

"Kita sudah bisa melihat tren relokasi ini dari meningkatnya pesanan produk garmen dari Indonesia, yang menandakan pergeseran dari Tiongkok dan Bangladesh. Produsen juga menganggap berisiko jika mendirikan basis produksi di Tiongkok karena perang dagang, sehingga mereka memindahkan investasinya ke negara-negara ASEAN," ujar Chatib menambahkan.

Meski demikian, ekonom senior itu menegaskan bahwa masuknya investor ke Indonesia akan bergantung pada perbaikan iklim investasi dalam negeri. Chatib yang pernah memimpin Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 2012–2013 itu mengakui pemerintah telah melakukan banyak perbaikan dalam beberapa tahun terakhir.

Ia menilai sistem yang diterapkan saat ini sudah lebih mampu memberikan kepastian kepada investor. Namun, ia tetap mengingatkan bahwa kompetisi antarnegara ASEAN juga ketat dan Indonesia tak bisa hanya mengandalkan tarif rendah sebagai daya tarik utama.

Data resmi pemerintah menunjukkan bahwa Indonesia telah mengumpulkan investasi asing langsung (FDI) senilai Rp 432,6 triliun atau sekitar 26,5 miliar dolar AS pada semester pertama 2025. Lima negara penyumbang investasi asing terbesar adalah Singapura (8,8 miliar dolar AS), Hong Kong (4,6 miliar dolar AS), Tiongkok (3,6 miliar dolar AS), Malaysia (1,7 miliar dolar AS), dan Jepang (1,6 miliar dolar AS).

Angka tersebut belum mencakup investasi di sektor hulu minyak dan gas serta jasa keuangan. Artinya, potensi penambahan nilai FDI ke depan masih terbuka lebar jika peluang relokasi pabrik benar-benar dimanfaatkan secara optimal.

Menanggapi pernyataan Chatib soal kemungkinan relokasi akibat tarif AS, Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masaki Yasushi, mengatakan bahwa masih terlalu dini untuk memberikan kesimpulan terhadap dampaknya bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Ia menyebut bahwa hubungan bisnis Jepang dan Indonesia lebih didasari oleh kepercayaan dan persahabatan jangka panjang.

"Seperti yang semua orang tahu, perusahaan-perusahaan Jepang memilih Indonesia bukan karena tarif. Kami telah menjalin persahabatan dan saling percaya yang sangat baik. Itu tidak akan terpengaruh oleh perang dagang, tapi kami berharap situasi ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kerja sama," kata Masaki.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

30 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

39 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.