Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bukan Hanya Indonesia, Pasar Kerja AS Nyaris Beku, Warganya Menganggur Berbulan Bulan

📅 Selasa, 15 Jul 2025, 08:55 WIB | Oleh:
Bukan Hanya Indonesia, Pasar Kerja AS Nyaris Beku, Warganya Menganggur Berbulan Bulan Doc: Freepik
Ket. Ilustrasi warga menginginkan pekerjaan

JAKARTA - Tak hanya Indonesia, warga Amerika Serikat kini juga merasakan getirnya mencari pekerjaan. Meski angka PHK belum melonjak drastis, sinyal suram dari pasar tenaga kerja mulai terlihat jelas, lapangan kerja makin sulit didapat.

Pemicunya? Ketidakpastian ekonomi akibat kebijakan tarif tinggi dari mantan Presiden Donald Trump. 

Banyak perusahaan kini memilih menahan diri untuk membuka lowongan baru. Hasilnya, pasar tenaga kerja AS seolah membeku.

Data terbaru yang dirilis Kamis, 10 Juli 2025 menunjukkan, jumlah klaim awal tunjangan pengangguran memang sedikit turun menjadi 227.000 pekan lalu. 

Tapi yang bikin waswas, klaim lanjutan yang diajukan para penganggur jangka panjang justru melonjak hingga menyentuh angka tertinggi sejak November 2021, yaitu 1,96 juta orang.

Artinya, warga AS yang menganggur kini butuh waktu jauh lebih lama untuk kembali bekerja. 

Penyebabnya bukan karena PHK massal, tapi karena perekrutan tenaga kerja yang sangat lamban. Para pengusaha lebih memilih wait and see ketimbang ekspansi.

Menurut Heather Long, Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union, pasar kerja AS kini nyaris membeku, kecuali di sektor-sektor krusial seperti kesehatan, pendidikan, dan penegakan hukum. 

Anak muda kesulitan mendapat pekerjaan pertama, dan yang baru saja di PHK tak kunjung mendapat pekerjaan pengganti.

Di Juni 2025 saja, AS hanya berhasil menambah 147.000 pekerjaan, dan hampir seluruhnya datang dari sektor pemerintah daerah dan layanan kesehatan, bukan dari industri-industri utama.

Laporan tersebut juga mengungkap rata-rata durasi pengangguran kini mencapai hampir enam bulan. 

Jumlah warga yang menganggur lebih dari 27 minggu naik menjadi 23,3 persen angka tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Heather Long menegaskan, selama ketidakpastian soal kebijakan tarif dan anggaran terus menghantui, pencari kerja akan tetap kesulitan menembus dunia kerja yang kini super kompetitif.

Meski data mingguan ini dapat berubah atau direvisi, namun tetap menjadi sinyal kuat bahwa ekonomi AS kini benar-benar sedang dalam tekanan. 

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Megapolitan
Warga Bekasi Akan Dihibur B...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.