Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Sekolah Rakyat Mulai Berjalan, Anggota Komisi VIII Atalia Praratya Ingatkan Potensi Kecemburuan Sosial

📅 Senin, 14 Jul 2025, 14:10 WIB | Oleh:
Sekolah Rakyat Mulai Berjalan, Anggota Komisi VIII Atalia Praratya Ingatkan Potensi Kecemburuan Sosial Doc: IST
Ket. Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya

BEKASI – Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Prarattya, memberikan sejumlah catatan penting terkait program sekolah Rakyat yang mulai dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia pada Senin (14/7).

“Saya melihat ada beberapa hal yang harus diperhatikan secara serius, Yang pertama adalah soal DTKS-M (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial Mutakhir). Jangan sampai penetapan data yang tidak akurat justru menimbulkan kecemburuan sosial di tengah masyarakat,” ujar Atalia dalam keterangannya usai kunjungan spesifik Komisi VIII DPR RI di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (11/7), sebagaimana ditulis di media resmi DPR RI.

Ia mengingatkan, keunggulan fasilitas dan kualitas pembelajaran di Sekolah Rakyat justru bisa memicu asumsi negatif jika tidak dibarengi dengan seleksi penerima manfaat yang transparan dan tepat sasaran.

“Sekolah ini luar biasa bagusnya. Jangan sampai masyarakat berpikir lebih baik pura-pura miskin agar bisa masuk ke sekolah dengan fasilitas unggulan seperti ini,” tambah Politisi Fraksi Partai Golkar ini.

Ia juga menekankan pentingnya keberadaan pendamping sosial dan wali siswa yang berperan aktif dalam mendukung perkembangan anak-anak di Sekolah Rakyat, terutama di tingkat dasar.

“Anak-anak kelas 1 sampai 4 SD itu masih sangat membutuhkan figur pengasuh dan pendamping. Mereka tidak cukup hanya diberi fasilitas, tapi juga butuh perhatian emosional dan penguatan karakter,” ujarnya.

Ia mengusulkan agar ke depan pemerintah mempertimbangkan penganggaran khusus untuk pendampingan psikososial anak-anak serta dukungan terhadap keluarga siswa.

“Banyak anak dari keluarga kurang mampu yang kehilangan kepercayaan diri. Mereka harus dipulihkan semangat dan keberaniannya agar bisa berkembang maksimal,” tegasnya.

Ia juga mencatat, sebagian besar Sekolah Rakyat yang saat ini berjalan masih bersifat sementara.

“Saya mendapat informasi bahwa sekitar 100 sekolah rakyat masih berstatus sekolah sementara. Ini perlu percepatan dari sisi pembangunan dan penguatan kelembagaan agar program ini benar-benar berkelanjutan.” ungkapnya.

Dengan ini kami berharap Sekolah Rakyat bukan hanya menciptakan akses pendidikan gratis dan berkualitas, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter dan kesiapan hidup generasi muda Indonesia.

“Kita ingin anak-anak dari keluarga tidak mampu tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga tangguh, punya keberanian, dan mampu mandiri membangun masa depannya,” katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Olahraga
Formula 1: Antonelli Harus ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.