Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kopi Senduro di Kaki Gunung Semeru Miliki Cita Rasa Berkualitas

📅 Selasa, 08 Jul 2025, 20:43 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kopi Senduro di Kaki Gunung Semeru Miliki Cita Rasa Berkualitas Doc: ANTARA
Ket. Arsip foto: Warga memetik kopi di Desa Senduro, Kecamatan Senduro.

LUMAJANG – Kopi robusta dan arabica di Desa Senduro yang berada di kaki Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, memiliki cita rasa berkualitas sehingga memiliki nilai tawar tinggi di pasaran. 

"Kopi dari Senduro tetap punya posisi kuat di pasar karena kualitasnya yang unggul, terutama arabika petik merah yang harganya bisa menembus Rp90.000 per kilogram," kata Kepala Bidang Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lumajang Mamik Woroarjiati dalam keterangan tertulis yang diterima Selasa (8/7).

Menurutnya, ada penurunan harga kopi di pasaran, namun pihaknya menekankan pentingnya menjaga standar mutu karena kopi yang dipetik merah sempurna punya rasa yang kompleks dan aroma yang menggugah, sehingga hal itu yang dihargai pasar.

Kini, tantangan bagi para petani bukan hanya soal cuaca dan harga, tapi juga regenerasi karena banyak anak muda desa memilih pergi ke kota.

Namun, sebagian mulai kembali ke desa karena didorong oleh tren kopi kekinian yang membuat profesi petani tak lagi dianggap orang desa.

Sebagian petani muda di Senduro bahkan sudah belajar membuat produk turunan seperti kopi bubuk kemasan, drip bag, hingga cold brew yang menjualnya lewat media sosial, merambah pasar luar daerah, dan menjadikan kopi sebagai identitas kreatif anak muda desa.

Pemerintah desa dan komunitas melihat peluang itu, sehingga mulai mengembangkan konsep wisata edukasi kopi dengan mengajak wisatawan memetik kopi langsung di kebun, belajar proses roasting, hingga menyeduh kopi sambil menikmati pemandangan Gunung Semeru yang megah.

Salah seorang petani kopi di Desa Senduro, Rohman mengaku sudah menanam kopi sejak usia remaja karena baginya, kopi bukan sekadar hasil tani, tetapi bagian dari hidupnya.

"Kalau petik merah, rasanya beda. Wangi lebih kuat, pahitnya halus. Tapi ya itu, harganya sekarang agak turun. Saat ini harga kopi robusta petik merah hanya sekitar Rp70.000 per kilogram, turun dari Rp85.000 musim lalu," katanya.

Sementara itu, robusta biasa yang tidak dipetik selektif hanya dihargai sekitar Rp60.000 per kilogram dan harga yang tentu belum cukup ideal, terutama bagi petani yang mengandalkan hasil panen untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan dapur sehari-hari.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Apakah Ada yang Tahu Apa Itu Jelekongism

2 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Apakah Ada yang Tahu Apa It...

Pelatih PSS: Banyak Sekali yang Harus Dibenahi

3 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pelatih PSS: Banyak Sekali ...
Olahraga
Marc Marquez Juara Sprint M...
Olahraga
Sinner Mundur dari Shanghai...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.