Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Komunitas Lima Gunung Gelar Aksi “Napak Bumi” sebagai Panggilan Nurani Cinta Alam dan Budaya

📅 Kamis, 22 Mei 2025, 10:15 WIB | Oleh:

Sitras, yang juga tokoh sesepuh Komunitas Lima Gunung itu, memimpin para pegiat seni budaya yang hadir malam itu, untuk retret dengan melantunkan masing-masing 12 bait tembang Mocopat, bersumber dari Serat Kalatidha (Pupuh Sinom) karya pujangga Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873) dan Sesinggah (Pangkur) karya Ulama Sunan Kalijaga (1450-1592).

Bait pertama pupuh Sinom terasa membawa mereka kepada refleksi tentang negeri yang sepi karena kerusakan cara berkomunikasi, kehilangan keteladanan, dan marjinalisasi sopan santun, sementara para bijak pandai terbawa arus zaman kalatida atau ketidakpastian dan semua orang abai serta masuk arus godaan.

Pupuh Pangkur dalam Sesinggah berupa bait demi bait mantra tolak bala dilantunkan komunitas malam itu agar manusia terbebas dari marabahaya dan bencana.

Pada pagi harinya bersamaan waktu matahari terbit, Rabu (21/5), setelah prosesi jalan kaki mengelilingi Dusun Tutup Ngisor, sekitar delapan kilometer barat daya puncak Gunung Merapi, tanda tolak bala dihadirkan sejumlah seniman petani melalui performa seni.

Mereka, yakni seniman Mastur, Khoirul Mutakin, Gianto, Sujono, dan Shuko Sastro Gending, selama beberapa saat melakukan performa seni berjudul "Mberat Sukerta", berupa jamasan lumpur di depan Candi Sapta Widayat, kompleks padepokan tersebut. Suasana pada sesi ini juga diwarnai dengan pembacaan puisi oleh dua penyair komunitas, Lie Thian Hauw (Haris Kertorahardjo) dan Hudi DW.

Dengan iringan tembang-tembang dan ungkapan mantra Jawa, mereka sambil memegang batangan dupa, menaburkan bunga mawar merah dan putih, serta memantik alat bunyi-bunyian, berjalan kaki mengelilingi dusun itu, seakan menyambut matahari terbit di kawasan Gunung Merapi.

Setelah peserta prosesi tiba di depan Candi Sapta Widayat, dilanjutkan dengan pembasuhan kaki menggunakan air yang dikumpulkan dari beberapa mata air di Magelang oleh pegiat komunitas. Mereka kemudian memasuki bangunan di atas kolam, berupa cungkup pendiri Padepokan Tjipto Boedaja, Romo Yoso Sudarmo (1885-1990), untuk berziarah dan takzim berdoa, sebagai ruang penting dalam tema "Napak Bumi", selain penghormatan terhadap leluhur manusia gunung dengan warisan nilai-nilai kearifan dan budaya masyarakat desa.

Peringatan Hari Peradaban Desa dengan "Napak Bumi" sebagai tema kali ini, oleh budayawan Sutanto Mendut dipandang sebagai penguatan atas kehadiran, aktivitas budaya dan berkesenian, serta peran inspiratif Komunitas Lima Gunung selama ini, bagi penjagaan kekuatan nilai-nilai kehidupan desa dan gunung.

Komunitas itu dengan perkembangan dan dinamika berjejaring juga menghidupi tradisi Festival Lima Gunung dengan kekuatan mandiri. Pada tahun ini, festival mereka yang telah mendunia tersebut bakal memasuki perhelatan ke-24 kali secara berturut-turut, termasuk ketika beberapa tahun pernah terjadi pandemi global COVID-19. Komunitas tersebut sedang mulai menyiapkan garapan Festival Lima Gunung untuk tahun ini.

Bagaikan menapak bumi, perjalanan kehidupan Komunitas Lima Gunung diungkap Sutanto dalam sarasehan Hari Peradaban Desa, Selasa (20/5) malam, di pendopo padepokan setempat, sebagai "diturunkan dari langit" memberi guna bagi bumi, lingkungan, sesama makhluk, dan semesta makna kehidupan, serta menjadi bagian hal ihwal itu.

Oleh karenanya, mereka harus tawaduk. Tidak semua tindakan seni budaya dan kelindan pemikiran bersama dalam kerangka komunitas, selalu memperoleh hasil sempurna atau sesuai rancangan pikiran.

Namun demikian, atas kesadaran tentang keberadaan sebagai manusia-manusia wadak yang harus "Napak Bumi", mereka telah menorehkan catatan panjang yang penting tentang pengejawantahan makna rahmatan lil-alamin. Termasuk tahun ini, keadaan terkini membuat mereka mengajak siapa saja menyadari kesunyataan untuk memenuhi panggilan nurani, "Napak Bumi".

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Sekjen PBB Soroti Tantangan Lonjakan Populasi Lansia

33 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
Sekjen PBB Soroti Tantangan...
Nasional
Menbud Optimistis Batik Ind...

Janice Tjen Tersingkir dari China Open

59 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Olahraga
Janice Tjen Tersingkir dari...
Advertisement
Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.