Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Disparitas Konsumsi Pangan, Ancaman Tersembunyi bagi Keseimbangan Gizi Nasional

📅 Kamis, 24 Apr 2025, 00:01 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Disparitas Konsumsi Pangan, Ancaman Tersembunyi bagi Keseimbangan Gizi Nasional Doc: ANTARA/Didik Suhartono
Ket. Pekerja menggunakan mesin pemanen saat panen raya padi di lahan persawahan Komplek TNI AL Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (23/4). Panen raya padi dalam rangka mendukung program ketahanan pangan pemerintah.

JAKARTA – Indonesia perlu mengurangi kebergantungan pada beras sebagai pangan utama. Selama ini, konsumsi beras masih dominan dibandingkan sumber karbohidrat lokal lainnya.

Ahli Gizi Rita Ramayulis menilai literasi pangan di masyarakat perlu ditingkatkan. “Kebergantungan tinggi pada nasi dan tepung terigu menunjukkan bahwa masyarakat belum terbuka terhadap pilihan pangan lokal yang lebih beragam dan bergizi tinggi,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Kedeputian Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) di Jakarta, Selasa (22/4).

Berdasarkan Direktori Konsumsi Pangan Nasional pada 2024, konsumsi beras masih mendominasi di angka 92 kilogram (kg) per kapita per tahun, sementara konsumsi pangan sumber karbohidrat lokal lainnya jauh di bawah angka konsumsi beras tersebut, seperti singkong 8,5 kg per kapita per tahun, kentang 2,5 kg per kapita per tahun, sagu 0,6 kg per kapita per tahun, dan ubi jalar 3,1 kg per kapita per tahun.

Kebergantungan masyarakat Indonesia terhadap satu jenis pangan menjadi tantangan besar dalam upaya penganekaragaman konsumsi. Disparitas konsumsi antarjenis pangan tak hanya mempersempit pilihan makanan, tetapi juga berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan gizi.

Pada kesempatan lain, Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi menegaskan diversifikasi pangan menjadi komponen penting dalam menjaga ketahanan pangan. Selain intensifikasi dan ekstensifikasi yang saat ini dilakukan, lanutnya, diversifikasi pangan juga menjadi unsur penting yang perlu terus didorong bersama dalam kerangka memperkuat ketahanan pangan.

“Kita tidak bisa terus bergantung pada satu komoditas saja. Indonesia sangat kaya akan sumber daya pangan lokal, dan ini harus dimanfaatkan secara optimal. Dengan memperkuat konsumsi pangan lokal, kita tidak hanya meningkatkan gizi masyarakat, tetapi juga mendukung ekonomi desa, memperkuat ketahanan pangan, dan mengurangi risiko krisis pangan di masa depan,” jelasnya.

Untuk itu, Arief menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, dukungan data yang akurat, dan aksi nyata di lapangan. Berbagai program berbasis potensi pangan lokal dapat menjadi kunci keberhasilan penganekaragaman konsumsi di Indonesia secara berkelanjutan.

Bangun Kesadaran

Sementara itu, Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas, Rinna Syawal mendorong masyarakat mengolah dan memanfaatkan pangan lokal sesuai dengan potensi wilayah masing-masing. Langkah tersebut dilakukan diantaranya, melalui program-program seperti B2SA Goes to School; Rumah Pangan B2SA; dan Pengembangan Desa B2SA.

Rinna menjelaskan pendekatan tahun ini tidak lagi semata berupa pemberian bantuan makanan sebagaimana dilakukan di masa lalu. Fokus utama kini adalah edukasi yang membangun kesadaran kolektif akan pentingnya mengonsumsi pangan lokal yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA).

“Selain edukasi, kami juga memfasilitasi alat-alat sederhana untuk pengolahan pangan lokal. Tujuannya tidak hanya untuk mempermudah produksi, tetapi juga untuk menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” kata Rinna. “Singkong, ubi, dan sagu adalah contoh bahan pangan lokal yang jika diolah secara kreatif, bisa menjadi sumber kesejahteraan baru,” tambahnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Polri Gelar Upacara Serah Terima Panji Tribrata

41 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Polri Gelar Upacara Serah T...
Megapolitan
Gubernur DKI Cek Pelayanan ...
Olahraga
Persiapan Atlet Balap Seped...
Olahraga
Thailand Takluk, Filipina R...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.