Jepang dan NATO Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan

Jumat, 11 Apr 2025, 01:00 WIB

TOKYO - Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, dan ketua NATO, Mark Rutte, pada Rabu (9/4) sepakat untuk meningkatkan kerja sama industri pertahanan di tengah tantangan keamanan yang ditimbulkan oleh perang Russia di Ukraina dan meningkatnya ketegasan Tiongkok.

Dilansir dari kantor berita Kyodo News, bidang kerja sama yang direncanakan meliputi pengembangan teknologi canggih serba guna dengan aplikasi sipil dan militer, yang kemungkinan akan mencakup kecerdasan buatan, drone, dan teknologi kuantum.

Ket. Foto: Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, dan ketua NATO, Mark Rutte — Sumber: istimewa

Jepang dan NATO telah memperdalam kemitraan mereka, terutama sejak Russia menginvasi Ukraina pada tahun 2022, memandang keamanan Indo-Pasifik dan Eropa sebagai hal yang tidak dapat dipisahkan.

"NATO yang lebih kuat akan sangat menguntungkan Jepang," kata PM Ishiba dalam jumpa pers bersama dengan Rutte di kantor perdana menteri di Tokyo, seraya mengatakan bahwa kerja sama industri pertahanan memiliki potensi yang sangat besar.

"Kami menyambut meningkatnya keterlibatan NATO di kawasan Indo-Pasifik," imbuh Ishiba.

Sementara Rutte menggarisbawahi perlunya kerja sama NATO-Jepang pada saat yang sangat penting bagi keamanan dan stabilitas di kawasan Euro-Atlantik dan Indo-Pasifik, karena perang Russia terhadap Ukraina terus berlanjut dan Tiongkok sedang mengejar pembangunan militer dan kendalinya atas teknologi utama dan rantai pasokan.

“Tiongkok terus melakukan kegiatan-kegiatan yang mengganggu stabilitas di Indo-Pasifik," kata Rutte dalam kunjungan pertamanya ke Jepang sebagai Sekretaris Jenderal NATO.

Jepang telah menyatakan minatnya untuk bergabung dengan komando NATO yang mengkoordinasikan penyediaan peralatan dan pelatihan militer untuk Ukraina yang dilanda perang. Komando tersebut, yang diberi nama NATO Security Assistance and Training for Ukraine (NSATU), berlokasi di pangkalan AS di Wiesbaden, Jerman.

"Saya menghargai kesediaan Anda untuk berpartisipasi dalam NSATU yang bisa membantu Ukraina berjuang saat ini tetapi juga bagi Ukraina untuk membangun angkatan bersenjatanya untuk masa depan," kata Rutte.

PM Jepang dan NATO juga mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk keras kerja sama militer antara Russia dan Korea Utara (Korut) dalam perang di Ukraina dan menyuarakan keprihatinan atas dukungan Tiongkok terhadap industri pertahanan Russia.

Ishiba dan Rutte juga menekankan pentingnya menjaga Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka berdasarkan supremasi hukum, dengan mengatakan bahwa mereka menentang segala upaya sepihak untuk mengubah status quo dengan kekerasan atau paksaan di Laut Tiongkok Timur dan Laut Tiongkok Selatan, yang tampaknya merujuk pada Beijing.

  • keamanan antarkawasan

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Andes Tanjung

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.