• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Perjuangan Tragis Menjadi ...

Perjuangan Tragis Menjadi Orang Pertama Turun Gunung Everest dengan Snowboard

Selasa, 11 Mar 2025, 07:00 WIB

Marco Siffredi (22 Mei 1979 – 8 September 2002) adalah seorang peseluncur salju dan pendaki gunung asal Prancis. Siffredi adalah orang pertama yang menuruni Gunung Everest dengan menggunakan papan seluncur salju.

Pada tanggal 22 Mei 2001, Marco mendaki puncak Everest dengan rencana menuruni gunung dengan snowboard melalui celah Hornbein. Tapi ia tidak menemukan cukup salju di rute tersebut, sehingga ia menggunakan rencana cadangan, yaitu turun melewati North Col Route.

Ket. Foto: Marco Siffredi (22 Mei 1979 – 8 September 2002) — Sumber: istimewa

Pada percobaannya itu, ia berhasil menuruni gunung Everest dan menjadi orang pertama yang berhasil turun dengan snowboard, setelah meluncur selama 4 jam. Namun, tujuannya untuk melewati celah Hornbein belum tercapai, hingga akhirnya ia kembali lagi ke Everest pada bulan September untuk menuntaskan misinya.

1741624167_2a1664b21349b34daeaf.jpeg

Foto terakhir yang diambil dari Marco Siffredi sebelum ia menghilang pada 8 September 2002.

Pada bulan itu ia berharap sudah ada salju yang cukup tebal di Hornbein sehingga bisa dilewati snowboardnya. Benar saja tebakannya, karena waktu itu salju tebal menyelimuti rute paling curam di Everest tersebut. 

Setelah beristirahat selama satu jam, ia mulai mulencur di celah Hornbein setelah pukul 3 sore. Namun nahas baginya, setelah melakukan peluncuran sejauh 1.500 meter dari bawah celah Hornbein, ia jatuh. Teman-teman Sherpa-nya kehilangan jejaknya beberapa kali. Di North Col, sekitar 1.300 meter (4.300 kaki) di bawah Camp Three, kedua Sherpa melaporkan melihat bayangan seorang pria berdiri, kemudian meluncur menuruni gunung. Namun, ketika mereka mencapai titik penglihatan tersebut, jejak papan saluncur salju Siffredi tidak ditemukan dan hingga saat ini, tubuhnya belum ditemukan.

Mendaki Gunung Everest selain dibutuhkan fisik yang kuat juga mental yang tangguh karena resiko kematian bisa kapan saja mengancam. Kondisi cuaca yang cepat berubah ditambah dinginnya suhu dan tipisnya oksigen menjadi beberapa kendala yang menghadang. Banyak para pendaki yang akhirnya meninggal dalam upayanya mencapai puncak.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Arif

Berita Terbaru

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

Wadoh, Investor Korea Selatan Diduga Jadi Korban “Mafia Legal Formal”

Shin Tae-yong Puas Pola Permainan Persija Nyaris Sempurna Jelang Liga

Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

Event Budaya Lokal Dipadukan Sport dan Lifestyle Bakal Perkuat Pengembangan Mandalika

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.