Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

#KaburAjaDulu, Hassan Wirajuda: Keresahan Anak-anak Muda Ini Perlu Didengarkan Pemerintah

📅 Kamis, 20 Feb 2025, 14:02 WIB | Oleh:
#KaburAjaDulu, Hassan Wirajuda: Keresahan Anak-anak Muda Ini Perlu Didengarkan Pemerintah Doc: antara foto
Ket. Mantan Menlu RI Hassan Wirajuda.

BEIJING - Diplomat veteran yang juga mantan menteri Luar Negeri (Menlu) Hassan Wirajuda menilai tren tagar #KaburAjaDulu yang berkembang di sejumlah platform media sosial merupakan ekspresi anak muda yang perlu didengarkan oleh pemerintah sekaligus diberikan penjelasan yang cukup mengenai kondisi terkini negara lain.

"Menurut saya #KaburAjaDulu adalah ekspresi orang muda. Biasa saja dan yang tua coba lebih toleran. Jangan membercandai. Didengar saja. Jangan dibikin ruwet. Itu kan ekspresi khas orang muda yang resah,"kata Hassan Wirajuda di Beijing, Rabu (19/2).

Karena itu, "Yang tua jangan memperburuk, dan mempersulit dengan membuat komentar yang membuat orang muda lebih marah," katanya menambahkan.

Tren tersebut populer di media sosial setelah banyak warga negara Indonesia (WNI) yang sedang bekerja di luar negeri menyarankan netizen untuk mengikuti jejak mereka bekerja di luar Indonesia.

Tren tersebut meluas setelah para WNI yang bekerja di luar negeri itu menyebutkan banyak keuntungan yang bisa diperoleh jika bekerja di luar negeri, termasuk mendapatkan upah yang tinggi dan kualitas hidup yang lebih baik.

"Keresahan itu wajar saja, bisa dimengerti karena misalnya ada kekhawatiran atas efisiensi anggaran negara. Mestinya saat disebut akan ada penghematan maka sudah diantisipasi bahwa akan ada keresahan. Ini soal komunikasi publik," kata Hassan yang juga Rektor Universitas Prasetiya Mulya itu.

Menurut Hassan, anak muda perlu diberikan kebebasan untuk mencari ilmu maupun pengalaman di luar negeri.

"Tapi bila mau keluar, harus tahu medannya. Contoh di Amerika Serikat dan banyak negara lain, termasuk Eropa, sensitif terhadap pekerja migran.Apalagi di bawah pemerintahan yang makin kanan. Jadi serba antiasing, antimigran, antiislam. Kita mau keluar negeri tanpa tahu itu? Tidak bisa," tegas Hassan.

Menurut Hassan, di banyak negara, khususnya negara-negara yang terlibat konflik seperti di Afrika, setidaknya ada 96 juta orang yang siap keluar untuk mencari perlindungan keamanan maupun kehidupan ekonomi yang lebih baik. Sementara negara-negara tradisional penerima pengungsi dan pekerja migran sudah tutup pintu.

"Peta itu yang harus dijelaskan. Inggris dan AS yang biasa disebut sebagai negara tujuan pekerja migran sekarang kondisi ekonominya menurun, dan bahkan Presiden Trump mulai memulangkan para pekerja migran. Jadi hal ini perlu dicermati dan disampaikan ke orang muda dibanding menganggap keresahan itu tidak ada sama sekali," ungkap Hassan.

Sebelumnya, menanggapi tren #KaburAjaDulu yang berkembang di media sosial tersebut, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding mendorong peningkatan kapasitas para pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di luar negeri.

Menteri Karding menganggap tren yang menyoroti menariknya peluang kerja di luar negeri tersebut sebagai hal positif.

Namun, dia menekankan tentang perlunya bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan mereka sebelum memilih bekerja di luar negeri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

Hari Santri Nasional

33 menit yang lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

36 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...

KPK Berharap Nusron Wahid Kooperatif

58 menit yang lalu | Ones

Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

1 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

1 jam lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.