Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

'Gantikan' TikTok, RedNote Jadi Kemenangan Tak Terduga bagi ‘Soft Power’ Tiongkok

📅 Minggu, 02 Feb 2025, 12:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
'Gantikan' TikTok, RedNote Jadi Kemenangan Tak Terduga bagi ‘Soft Power’ Tiongkok Doc: The Conversation/Shutterstock
Ket. Pengguna TikTok di AS pindah ke aplikasi serupa asal Tiongkok Xiaohongshu atau RedNote.

Tom Harper, University of East London

Presiden Amerika Serikat (AS) yang baru kembali menjabat, Donald Trump, memberikan kelonggaran kepada TikTok satu hari setelah penetapan undang-undang yang melarang aplikasi milik Cina tersebut di AS karena alasan keamanan nasional.

Trump, yang sebelumnya mengungkapkan kekagumannya terhadap TikTok, mengeluarkan perintah eksekutif untuk menunda pelaksanaan larangan tersebut selama 60 hingga 90 hari. Dan saat ini, TikTok mulai memulihkan layanannya untuk sekitar 170 juta penggunanya di AS.

Selama sepekan terakhir, menjelang pelarangan, sejumlah besar pengguna TikTok di Amerika berbondong-bondong hijrah ke aplikasi media sosial asal Cina lainnya bernama Xiaohongshu.

Platform yang sering disebut “RedNote” ini meraih posisi teratas di Apple Store AS pada 14 Januari 2025 dengan lebih dari 700.000 pengguna baru. Pengguna aplikasi asal Cina menyambut para “pengungsi TikTok” AS dengan mulai memproduksi lebih banyak konten berbahasa Inggris.

Ada berbagai alasan mengapa para pengguna TikTok memilih beralih ke Xiaohongshu dibandingkan platform lainnya. Sebagian ingin menunjukkan pembangkangan terhadap pemerintah AS atas larangan TikTok. Sementara sebagian lainnya tertarik pada fitur Xiaohongshu yang menggabungkan fitur TikTok dengan media sosial lain seperti Instagram. Sentimen terhadap isu pengambilan data oleh pemerintah Cina tampaknya tidak lagi menjadi kekhawatiran bagi sebagian besar pengguna.

Migrasi ke Xiaohongshu adalah sebuah kemenangan tak terduga bagi upaya soft power Cina. Istilah “soft power” diperkenalkan pada akhir 1980-an oleh ilmuwan politik Amerika Joseph Nye. Kata itu merujuk pada kemampuan suatu negara memengaruhi pihak lain melalui daya tarik daripada paksaan.

Kompetisi antara Beijing dan Washington untuk mendominasi ekonomi dan teknologi global telah lama ditopang oleh soft power. Teoretikus politik Cina seperti Yan Xuetong berpendapat bahwa soft power adalah kunci bagi Cina untuk menjadi “kekuatan besar” di dunia. Dan AS mengesahkan undang-undang pada 2024 yang mengalokasikan dana sebesar USD1,6 miliar (setara dengan Rp25,9 triliun) untuk “melawan propaganda Cina” selama lima tahun mendatang.

Cina selama ini dianggap tidak mampu menyaingi daya tarik negara-negara yang lebih mapan dalam hal soft power. Cina tidak hanya dibandingkan dengan AS, tetapi juga Jepang dan Korea Selatan, yang budaya populernya sukses menarik perhatian global lewat drama televisi, musik pop, anime dan video game.  

Persepsi ini sepertinya mulai berubah dengan banjirnya “pengungsi TikTok” ke Xiaohongshu. Layaknya kebanyakan aplikasi di Cina, Xiaohongshu tunduk pada persyaratan sensor dari pemerintah Cina. Basis pengguna barat yang terus berkembang membuat pemirsa online global terpapar konten dan budaya Tiongkok dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.


            

Dalam sebuah unggahan komentar, seorang pengguna yang menyebut dirinya “pengungsi TikTok”, Amanda mengatakan: “Saya sangat senang bisa berbicara dengan orang Cina dan belajar tentang budaya serta pengalaman mereka.”

Banyak pengguna Cina menyambut pengguna Amerika dengan hangat, bahkan menawarkan untuk mengajarkan mereka bahasa Mandarin.

Pada 16 Januari, platform belajar bahasa Duolingo melaporkan
peningkatan 216% dalam jumlah pelajar bahasa Mandarin baru di AS dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perkembangan ini kemungkinan terkait dengan bertambahnya pengguna Xiaohongshu di Barat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Arema FC Mengikuti Langkah PSIM, Memecat Pelatih

31 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Arema FC Mengikuti Langkah ...

Rano karno Buka Jakarta Financial Festival Blok M Square

47 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Rano karno Buka Jakarta Fin...

Pengamat : Salvage KMP Batumandi Patut Dicontoh

1 jam lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Pengamat : Salvage KMP Batu...

Jakarta Merintis Diri Menjadi Hub Ekonomi Kreatif

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Jakarta Merintis Diri Menja...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.