Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

UNICEF: Pendidikan 242 Juta Anak Terganggu Cuaca Ekstrem pada 2024

📅 Jumat, 24 Jan 2025, 11:35 WIB | Oleh:
UNICEF: Pendidikan 242 Juta Anak Terganggu Cuaca Ekstrem pada 2024 Doc: un.org
Ket. Anak-anak bermain di lingkungan mereka dekat Sungai Merah, yang banjir setelah Topan Yagi pada bulan September 2024, di Hanoi, Vietnam.

PBB - Cuaca ekstrem mengganggu pendidikan sekitar 242 juta anak di 85 negara tahun lalu, kira-kira satu dari tujuh siswa, UNICEF melaporkan pada Kamis (23/1).

Laporan itu menunjukkan, gelombang panas memiliki dampak terbesar. Sementara direktur eksekutif UNICEF Catherine Russell memperingatkan anak-anak "lebih rentan" terhadap cuaca ekstrem. 

"Mereka lebih cepat kepanasan, kurang efektif berkeringat, dan lebih lambat mendingin dibandingkan orang dewasa," ungkapnya dalam sebuah pernyataan. 

"Anak-anak tidak dapat berkonsentrasi di kelas yang tidak memberikan perlindungan dari panas terik, dan mereka tidak dapat pergi ke sekolah jika jalan setapak banjir, atau jika sekolah tersapu banjir."

Aktivitas manusia, termasuk pembakaran bahan bakar fosil yang tak terbatas selama beberapa dekade, telah menghangatkan planet dan mengubah pola cuaca.

Suhu rata-rata global mencapai rekor tertinggi pada tahun 2024, dan selama beberapa tahun terakhir suhu tersebut untuk sementara melampaui ambang batas pemanasan kritis 1,5 derajat Celsius untuk pertama kalinya. 

Hal ini menyebabkan musim hujan menjadi lebih basah dan musim kemarau menjadi lebih kering, meningkatkan panas dan badai, serta membuat penduduk lebih rentan terhadap bencana.

Angka 242 juta merupakan "perkiraan konservatif," kata laporan UNICEF yang mengutip adanya kesenjangan dalam data. 

Data yang tersedia menunjukkan, siswa dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas mengalami penangguhan kelas, pemindahan liburan, penundaan pembukaan kembali, perubahan jadwal, dan bahkan sekolah rusak atau hancur sepanjang tahun akibat guncangan iklim.

Setidaknya 171 juta anak terkena dampak gelombang panas, termasuk 118 juta pada bulan April saja, saat suhu melonjak di Bangladesh, Kamboja, India, Thailand, dan Filipina.

Di Filipina khususnya, ribuan sekolah tanpa AC ditutup, dan anak-anak berisiko mengalami hipertermia.

Risiko Meningkat  

Bulan September, yang menandai dimulainya tahun ajaran di banyak negara, juga sangat terdampak.

Kelas-kelas ditangguhkan di 18 negara, terutama karena topan Yagi yang dahsyat di Asia Timur dan Pasifik. 

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.