Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bahan Lokal MBG Peluang Besar Gerakkan Ekonomi Rakyat

📅 Selasa, 07 Jan 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Bahan Lokal MBG Peluang Besar Gerakkan Ekonomi Rakyat Doc: Koran Jakarta/M Fachri
Ket. Program Makan Bergizi Gratis di Jakarta - Petugas menyiapkan paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Palmerah, Jakarta, Senin (6/10).

JAKARTA – Keseriusan pemerintah mengurangi impor pangan tidak perlu diragukan lagi. Setelah akhir tahun lalu Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajaran menterinya menyetop impor kebutuhan pangan pokok, kini Presiden melarang impor untuk bahan pokok pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang resmi dimulai pada Senin (6/1/2025).

“Presiden secara tegas telah mewanti-wanti agar tidak ada komiditas yang didatangkan secara impor dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis,” kata Menteri Koperasi, Budi Arie Setiadi saat ditemui di SD Angkasa 5 Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (6/1/2025).

Budi menyebut, hal itu dilakukan guna mendorong laju pertumbuhan ekonomi ke depan. Di mana, program ini diharapkan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kecil. Mulai dari petani, peternak hingga pelaku UMKM nasional. Dia mencontohkan, beras yang digunakan untuk program MBG misalnya didatangkan dari Cianjur.

 Kemudian, untuk pasokan sayuran didatangkan dari petani-petani di wilayah Bandung. Dengan demikian, Budi memproyeksi program MBG ini bakal turut mendorong ekonomi RI tumbuh sekitar 0,89 pada 2025. “Ini semua pasti buatan Indonesia supaya tujuan MBG ini untuk menggerakkan ekonomi masyarakat bisa terwujud,” tegasnya.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudisthira menegaskan Pemerintah harus konsisten untuk gunakan bahan baku lokal dalam MBG agar menghasilkan multiplier effect atau efek berganda yang besar secara ekonomi. Selain dampak ke petani dan peternak lokal, memprioritaskan bahan baku lokal juga berdampak positif terhadap stabilitas nilai tukar.

 Penggunaan bahan baku lokal akan menciptakan lapangan kerja di pedesaan hingga mendorong industri turunan pertanian seperti alat mesin pertanian (alsintan) dan pupuk. “Produk lokal sering kali lebih segar dan terkontrol kualitasnya dibandingkan bahan impor yang memerlukan transportasi lama.

 Bahan baku lokal juga akan mempengaruhi UMKM (usaha mikro kecil dan menengah), karena sebagian besar UMKM akan mengambil baha baku dari pasar tradisional bahkan dari petani langsung,” pungkas Bhima.

Ekonom STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko mengatakan, impor adalah penyakit ekonomi paling berat bagi Indonesia. Akibat kebijakan impor yang tidak terkendali, sektor pertanian hancur, sektor manufaktur melemah, dan pada akhirnya daya saing nasional juga menurun.

Aditya menekankan bahwa kebijakan larangan impor harus menjadi prioritas pemerintah jika ingin membangkitkan perekonomian akar rumput. “Jangan sampai ada ruang bagi rente ekonomi, yang sering kali menjadi alasan utama kebijakan impor dilakukan,” imbuhnya.

Selain merusak sektor produksi domestik, kebiasaan impor juga menciptakan ketergantungan jangka panjang yang membahayakan kemandirian ekonomi bangsa. Ia menilai, komitmen Presiden Prabowo untuk memanfaatkan produk lokal dalam program MBG adalah peluang besar untuk menggerakkan ekonomi rakyat, baik itu sektor pertanian, peternakan, maupun UMKM.

“Pemerintah perlu mengawal program ini hingga benar-benar menjadi titik balik bagi perekonomian nasional. Jangan hanya berhenti pada wacana atau klaim di awal program,” tandasnya.

Akses Pangan Bergizi

Pakar sosiologi dan kemiskinan dari Universitas Airlangga, Surabaya, Bagong Suyanto, mengapresiasi kebijakan pemerintah yang melarang impor untuk bahan baku MBG. Namun dia berharap, pemerintah dapat meningkatkan kesejahteraan kelompok miskin agar akses mereka terhadap makanan bergizi lebih luas.

“Pelarangan impor untuk bahan program makan gratis ini menggarisbawahi hubungan erat antara kemiskinan, kesenjangan, dan aksesibilitas pangan,” katanya. Menurut Bagong, ketahanan pangan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari isu ketimpangan sosial yang kerap dialami masyarakat desa yang menjadi tempat produksi bahan baku pangan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...

Gunung Semeru Meletus Berkali-kali pada Jumat Malam

25 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Daerah
Gunung Semeru Meletus Berka...
Nasional
Menteri Ekraf Sebut Fesyen ...

Dirut Bulog: Penyaluran Minyakita Menjangkau Pasar

49 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Nasional
Dirut Bulog: Penyaluran Min...
Advertisement
Kabar Duka, Guruh Soekarnoputra Wafat di Usia 73 Tahun

Kabar Duka, Guruh Soekarnoputra Wafat di Usia 73 Tahun

26 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.