Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Perkuat Rantai Pasok Industri Agro Global, Indonesia Ekspor 50 Ribu Ton Porang ke Tiongkok

📅 Minggu, 01 Des 2024, 16:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Perkuat Rantai Pasok Industri Agro Global, Indonesia Ekspor 50 Ribu Ton Porang ke Tiongkok Doc: ANTARA/HO-Kemenperin
Ket. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika di Jakarta, Selasa (26/11/2024).

JAKARTA - Pemerintah Indonesia mengekspor tanaman sejenis umbi-umbian sekaligus tanaman herbal yakni porang sebanyak 50 ribu ton ke Tiongkok, yang menjadi bukti kontribusi Indonesia untuk memperkuat rantai pasok bahan baku industri agro global.

Ekspor tersebut difasilitasi oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT Agrobisnis Komoditas Indonesia (Agrasi) dengan GuangXi Huapin Agriculutral Technology, Co., Ltd.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika dalam pernyataan di Jakarta, Sabtu (30/11), menjelaskan pada tahap awal kerja sama ini, sebanyak 21 industri kecil menengah (IKM) telah mendapatkan bantuan berupa fasilitas produksi mesin pengering serpih porang.

"Targetnya, pada 2028 akan terlaksana transfer teknologi dan produksi tepung glukomanan sesuai spesifikasi industri di Indonesia,” katanya.

Disampaikan dia, pada 4 Januari 2024, kedua belah pihak juga telah menandatangani kontrak kerja sama dalam proses jual beli serpih porang selama enam tahun (2024-2030) sebanyak 25 ribu ton per tahun. Selanjutnya, pada 26 November 2024, terjadi kesepakatan lagi untuk peningkatan jual beli, dari 25.000 ton menjadi 50.000 ton per tahun.

Dia mengatakan peningkatan jumlah ekspor serpih porang ini juga diiringi fasilitasi mesin pengering yang memiliki sertifikat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang akan digunakan oleh para pelaku industri kecil menengah di sentra produksi di wilayah tanah air.

Menurutnya, kerja sama perusahaan Agrasi dan Huapin diharapkan dapat menjaga stabilitas harga bahan baku porang di kisaran Rp4.000-Rp4.500 per kilogram.

Dikatakan Putu, stabilitas harga porang ini penting untuk menjaga motivasi petani, sehingga pasokan bahan baku global terhadap tanaman porang dapat terpenuhi secara berkesinambungan.

“Harapannya pada tahun 2030, terbangun industri permurnian glukomanan 95 persen di Indonesia, dan Indonesia menjadi salah satu pionir utama industri glukomanan global,” katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

Serius Ada Cadangan Beras 4,8 Juta Ton? Kok Beras Tetap Mahal

53 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Nasional
Serius Ada Cadangan Beras 4...

Tak Dijamin JKN, Bisa Masuk Program Berani

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Tak Dijamin JKN, Bisa Masuk...

Kasus Kapal Virgo, Empat Tersangka Ditetapkan

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Kasus Kapal Virgo, Empat Te...
Advertisement
Jakarta World Cinema 2026 Siap Digelar, Hadirkan 207 Film dari 69 Negara

Jakarta World Cinema 2026 Siap Digelar, Hadirkan 207 Film dari 69 Negara

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.