Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Terapi Antibodi Monoklonal Hanya Berhasil pada Kasus Tertentu

📅 Jumat, 22 Nov 2024, 02:31 WIB | Oleh:
Terapi Antibodi Monoklonal Hanya Berhasil pada Kasus Tertentu Doc: AFP/ THOMAS COEX

Lebih dari 20 tahun yang lalu, para ilmuwan belajar untuk menargetkan sel-sel B yang dikenal nakal dengan dengan antibodi monoklonal, protein besar yang dibuat di laboratorium. Terapi ini bekerja dengan mengikat sel-sel B dan memaksa mereka untuk menghancurkannya.

Secara garis besar, antibodi monoklonal merupakan protein yang dibuat di laboratorium. Cara kerjanya dengan meniru kemampuan sistem kekebalan tubuh manusia untuk melawan infeksi virus (imunoterapi) dan patogen berbahaya lainnya

Perawatannya menargetkan sel-sel B dinilai merupakan terapi yang cukup transformatif. Bruce Cree, seorang ahli saraf di University of California San Francisco, tidak akan pernah melupakan saat pertama kali ia memberikan pengobatan anti-sel B kepada pasien multiple sclerosis (MS), pada tahun 2002.

Sebelumnya pasien perempuan penderita MS itu telah menghabiskan waktu berbulan-bulan dalam perawatan intensif, membuatnya lumpuh dan tidak dapat bernafas tanpa ventilator. Dalam keputusasaan, Cree mencoba antibodi monoklonal rituximab, yang saat itu hanya disetujui untuk limfoma sel B.

“Sekitar 2 pekan setelahnya, dia mulai mengangkat bahu,” kata dia. Sepekan kemudian dia keluar dari rumah sakit. Kemudian, sekitar 2 bulan ia datang ke klinik saya dengan alat bantu jalan, dan saya tidak dapat mempercayainya,” kata Cree dikutip dari science.org.

Uji klinis kemudian membuktikan bahwa rituximab berhasil pada MS. Anti-sel B monoklonal sekarang menjadi andalan pengobatan untuk kondisi neurologis, serta penyakit autoimun lainnya. Namun pada beberapa orang yang hidup dengan MS, penyakit tersebut terus berkembang meskipun telah menjalani pengobatan monoklonal.

Pada lupus, yang telah lama dianggap sebagai penyakit sel B, beberapa antibodi monoklonal telah gagal dalam uji klinis. Tidak ada satu penjelasan tunggal untuk kekurangan ini. Satu teori adalah bahwa protein pada sel B yang sering menjadi target monoklonal, CD20, diekspresikan saat sel tersebut matang, tetapi tidak tepat saat mereka lahir atau di kemudian hari, saat mereka berdiferensiasi menjadi sel plasma yang menghasilkan sejumlah besar antibodi. Akibatnya, tidak semua sel B dapat dihancurkan.

“Mungkin yang tidak kami miliki dengan banyak antibodi monoklonal adalah kekuatannya, kemampuan untuk masuk ke jaringan yang berbeda,” kata Dominic Borie, seorang imunolog dan presiden R&D di Kyverna Therapeutics, sebuah perusahaan bioteknologi di Emeryville, California, yang menjalankan uji coba terapi sel T reseptor antigen kimerik (chimeric antigen receptor T-cell/CAR-T) pada penyakit autoimun.

Terapi sel T reseptor antigen kimerik (CAR-T), yang telah disetujui untuk kanker darah tertentu, menimbulkan kegembiraan dalam uji coba awal terhadap penyakit autoimun. Dirancang untuk memusnahkan seluruh kelas sel imun, pengobatan ini menjanjikan tetapi disertai dengan risiko yang berpotensi serius.

“Jangkauan sel CAR-T tampak jauh lebih besar. Sel-sel yang direkayasa tampaknya bermigrasi lebih baik ke dalam jaringan, dan mereka sering menargetkan protein CD19, yang diekspresikan sel B sejak awal kehidupannya dan setelah usia paruh baya,” kata kepala hematologi/onkologi Andreas Mackensen di Rumah Sakit Universitas Erlangen. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
DKI Jakarta Benahi Kabel Se...

Arema FC Mengikuti Langkah PSIM, Memecat Pelatih

45 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Arema FC Mengikuti Langkah ...
Megapolitan
Rano karno Buka Jakarta Fin...

Pengamat : Salvage KMP Batumandi Patut Dicontoh

1 jam lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Pengamat : Salvage KMP Batu...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.