Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Dokter Ini Ingatkan Seribu Hari Pertama Jadi Periode Emas Tumbuh Kembang Anak

📅 Selasa, 29 Okt 2024, 17:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Dokter Ini Ingatkan Seribu Hari Pertama Jadi Periode Emas Tumbuh Kembang Anak Doc: ANTARA/Ist
Ket. Ilustrasi seorang anak tengah meminum susu. Peran susu sebagai sumber protein hewani semakin dibutuhkan untuk memastikan tumbuh kembang anak optimal.

Jakarta - Anggota Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI dr. Cut Nurul Hafifah, SpA(K) mengungkapkan pentingnya seribu hari pertama kehidupan sebagai periode emas yang sangat rentan bagi tumbuh kembang seorang anak.

Seribu hari pertama tersebut termasuk masa kehamilan hingga tahun pertama, serta dua tahun kehidupan anak, dan dalam masa ini, terjadi perkembangan pesat pada otak, sel-sel saraf, serta pertumbuhan fisik.

"Seribu hari pertama kehidupan ini adalah suatu periode rentan ya. Di sini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat, dimulai sejak dalam kandungan, 270 hari, kemudian ditambah dengan tahun pertama dan tahun kedua, sehingga totalnya mencapai seribu hari," kata dokter spesialis anak tersebut saat diskusi daring di Jakarta, Selasa.

Dokter Nurul menjelaskan pada dua tahun pertama, mielinisasi dan pembentukan sel saraf mencapai puncaknya, yang berarti gangguan pada periode ini, baik sejak dalam kandungan maupun setelah lahir, dapat mempengaruhi potensi kecerdasan dan pertumbuhan anak di masa dewasa.

Sementara itu, pada masa kandungan, perkembangan janin sangat bergantung pada kesehatan ibu, suplai nutrisi, dan lingkungan dalam rahim.

Selain itu, faktor seperti kondisi kesehatan dan nutrisi ibu juga dapat mempengaruhi 30 persen tinggi dewasa anak.

"Yang mempengaruhi adalah lingkungan di dalam rahim ibu, jadi bagaimana suplai makanan dari ibu ke janin, plasentanya bagaimana, kemudian juga dipengaruhi oleh apakah ibu ada penyakit, apakah ibu mengalami malnutrisi, kemudian janinnya itu sendiri, apakah dia mengalami kelainan atau tidak. Artinya misalkan ada faktor penyakit genetik, itu akan mempengaruhi bagaimana seorang janin dalam kandungan itu tumbuh," ungkapnya.

Setelah lahir, dua tahun pertama kehidupan menentukan 15 persen dari tinggi dewasa, dengan nutrisi, kesehatan, serta imunisasi menjadi faktor utama yang memengaruhi.

Oleh karena itu, pemerintah pun mencanangkan screening untuk hypothyroid kongenital pada bayi baru lahir, mengingat hormon tiroid berperan penting dalam metabolisme, penambahan berat badan, dan perkembangan kognitif.

Menurut dokter Nurul, banyak yang salah kaprah menganggap genetik sebagai alasan utama pendeknya tinggi badan orang Indonesia. Namun, pada seribu hari pertama kehidupan, nutrisi dan kesehatan anak memiliki peran lebih dominan dalam menentukan potensi pertumbuhan dibandingkan faktor genetik.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Nasional
Timothy Ivan Triyono Mundur...
Luar Negeri
AS Kirim Dua Jet Tempur F-1...
Advertisement
Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.