Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kemenperin Optimistis RI Jadi Produsen dan Eksportir Pertama Produk Olahan Sagu

📅 Rabu, 02 Okt 2024, 16:54 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kemenperin Optimistis RI Jadi Produsen dan Eksportir Pertama Produk Olahan Sagu Doc: Istimewa
Ket. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat memberi sambutan dalam Acara "Sagu Expo: Pameran, Eksplorasi, dan Kreasi Produk Olahan Sagu" di Sharinah, Jakarta, Rabu (2/10).

JAKARTA-Pemerintah melakui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pemanfaatan sagu sebagai bagian dari diversifikasi pangan. Selain memenuhi kebutuhan domestik, diharapkan RI menjadi produsen dan eksportir pertama produk olahan sagu.

Demikian ditegaskan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam Acara "Sagu Expo: Pameran, Eksplorasi, dan Kreasi Produk Olahan Sagu" di Sharinah, Jakarta, Rabu (2/10). Adapun acara ini untuk meningkatkan awareness masyarakat maupun para stakeholders tentang potensi dan pentingnya hilirisasi sagu serta ragam produk olahan sagu.

Dijelaskan Menperin bahwa sagu merupakan tanaman asli Indonesia yang dapat menghasilkan pati paling besar dibandingkan dengan tanaman penghasil pati lainnya, sehingga sagu merupakan alternatif sumber karbohidrat yang sangat baik dalam mendukung ketahanan dan kemandirian pangan Indonesia.

"Sebagaimana yang pernah saya sampaikan pada Acara Simposium Nasional Industri Pengolahan Sagu sebelumnya, Indonesia memiliki potensi lahan sagu mencapai 5,5 juta hektar (Ha) atau 85 persen dari total potensi luas lahan sagu di seluruh dunia,"ucap Agus

Sebaran lahan sagu terluas berada di Papua, sementara produsen sagu terbesar nasional saat ini berasal dari Riau. Namun demikian, sayangnya, Indonesia bukanlah eksportir pati sagu terbesar di dunia, melainkan Malaysia.

"Tentunya yang diinginkan adalah kita menjadi yang pertama sebagai produsen dan eksportir produk olahan sagu. Di samping itu, harapannya kita bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri secara mandiri,"tegas Menperin

Saat ini papar dia, pemanfaatan sagu masih rendah, yaitu kurang dari 4% luas areal sagu nasional atau sekitar 212.468 Ha. Pemanfaatan yang rendah ini disebabkan oleh beberapa kendala, seperti minimnya infrastruktur, fasilitas penunjang, keterampilan dan kapasitas SDM. Selain itu, rendahnya popularitas komoditas sagu juga menjadi penghambat proses pengembangan yang pada akhirnya membatasi pencapaian potensi komoditas ini.

"Jika dilakukan penelitian dan pengembangan lebih lanjut, masih banyak potensi sagu yang dapat dieksplorasi, seperti pemanis, bioetanol, dan biofuel. Tingginya kandungan serat dan pati yang dimiliki oleh sagu, juga berpotensi untuk menjadi bahan baku pada pengembangan industri biofuel dan bioetanol,"terang Menteri Agus.

Limbah yang dihasilkan pada proses pengolahan sagu dapat dimanfaatkan menjadi beberapa produk, baik pakan dan biogas. Selain itu, tanaman sagu juga memiliki laju penyerapan CO2 yang tinggi, yaitu sekitar 289 ton CO2/ha/tahun, sehingga dapat menjadi salah satu kontributor perlambatan global warming.

Penanaman sagu, khususnya pada lahan gambut, dapat menjadi area konservasi air sehingga dapat mencegah pengeringan lahan, kebakaran serta dapat menahan terlepasnya karbon dari lahan. Sangat banyak manfaat sagu bagi industri maupun lingkungan kita, dan alangkah sayangnya jika potensi ini tidak kita kembangkan dan manfaatkan sebaik-baiknya.

Untuk mengakselerasi diversifikasi pangan lokal dan pengembangan usaha berbasis bahan baku lokal (termasuk sagu), Pemerintah papar Menperin telah menerbitkan Peraturan Presiden No. 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Kemenkes Perluas Cek Kesehatan Gratis

20 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Kemenkes Perluas Cek Keseha...

Aldila Tak Mampu Menerobos Semifinal WTA Ningbo

39 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Aldila Tak Mampu Menerobos ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.