Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Indonesia Sulit Keluar dari Middle Income Trap Selama Pemerintah Masih Talangi Utang BLBI

📅 Jumat, 27 Sep 2024, 17:50 WIB | Oleh:
Indonesia Sulit Keluar dari Middle Income Trap Selama Pemerintah Masih Talangi Utang BLBI Doc: Istimewa

JAKARTA - Pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahmad Maruf menanggapi pernyataan Bank Dunia terkait perlunya keajaiban bagi Indonesia untuk keluar dari middle income trap. Ia menilai salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia adalah utang.

"Bunga utang saja sudah sulit dikejar, apalagi membayar pokok utangnya. Saat ini, utang Indonesia sudah mencapai lebih dari 500 miliar dollar AS dan hanya untuk membayar bunganya saja, pemerintah harus kembali berutang," kata Maruf.

"Utang dipakai untuk konsumsi dan membayar utang, bukan untuk pengembangan sektor produktif seperti pertanian atau pangan," tambahnya.

Lebih lanjut, kata dia, pemerintah malah menalangi utang perampok Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang sampai kini tidak ditagih, bahkan mereka dijadikan kroni. Menurutnya, hasil devisa yang didapat para kroni itu malah dibawa lari ke luar negeri.

Maruf pun menyoroti soal Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati yang tidak menggunakan hak tagih, padahal ada MRNIA dan MSAA. Ia mengatakan, selama ini wacana yang dibangun seolah-olah itu biaya krisis perbankan.

Sebaiknya Anda baca juga:

"Pelanggaran pidana dengan MRNIA dan MSAA tidak ditagih," ucapnya.

Sementara itu, industri dalam negeri dibiarkan sehingga tidak bisa bersaing dengan Tiongkok untuk mendapat devisa.

"Kita banggakan Shopee dan Tokopedia, padahal itu sumber habisnya devisa Indonesia, karena barang yang mereka jual dari luar negeri semua, terutama Tiongkok," katanya.

Ia menilai, Indonesia bukan tidak bisa keluar dari middle income trap, melainkan tidak memiliki keinginan. Menurut dia, solusi Bank Dunia 3I (investasi, infusi, dan inovasi) dinilai tidak relevan karena Indonesia berbeda dengan Korea Selatan yang saat krisis juga menjadi pasien Bank Dunia.

"Obat Bank Dunia pun tidak ada gunanya. Kita bukan sekutu AS. Korea, Taiwan, Jepang, Singapura itu sekutu AS, sekutu strategis. Kita hanya konsumen," tuturnya.

Maruf juga menuturkan, Indonesia tidak bisa seperti sekarang ini yang terus bergantung pada negara luar untuk memenuhi pangan. Terlebih, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia.

"Impor pangan itu basisnya dollar AS. Untuk membeli gandum, kedelai, susu, dan daging sapi semuanya impor, semuanya menggunakan dollar AS. Kalau pendapatan kita rupiah, tapi kebutuhan makan kita dalam dollar, bagaimana kita bisa lepas dari perangkap kemiskinan," paparnya.

"Bank Dunia benar memang perlu keajaiban bagi Indonesia untuk bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah. Hal itu terjadi karena semua industri dalam negeri dimatikan demi rent seeking. Praktik seperti itu membuat industri lokal sulit bersaing, karena kepentingan pribadi atau kelompok lebih diutamakan daripada pengembangan industri dalam negeri. Ini adalah salah satu penyebab utama mengapa ekonomi Indonesia sulit beranjak dari status menengah," lanjutnya.

Sebelumnya, Bank Dunia mengeluarkan pernyataan kalau Indonesia butuh keajaiban untuk menjadi negara dengan perekonomian berpendapatan tinggi pada tahun 2045 atau hanya beberapa dekade ke depan, bukan abad.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Ekonomi
Neraca perdagangan Indonesi...
Nasional
Presiden Prabowo lantik Wan...
Olahraga
Fitriani/Fadona melaju ke f...
Advertisement
Data Center AI Jatiluhur Ternyata Tanpa Amdal! KDM Setop Pembangunannya

Data Center AI Jatiluhur Ternyata Tanpa Amdal! KDM Setop Pembangunannya

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.