Kemlu RI Kabarkan Tak Ada Korban WNI dalam Ledakan Alat Komunikasi di Lebanon
Sabtu, 21 Sep 2024, 00:31 WIBJakarta - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan tidak ada warga negara Indonesia yang menjadi korban dalam peristiwa ledakan ribuan unit alat komunikasi di Lebanon yang diduga didalangi Israel baru-baru ini.
Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Indonesia Kemlu RI Judha Nugraha pada Jumat malam memastikan hal tersebut setelah berkomunikasi dengan Kedutaan Besar RI (KBRI) Beirut yang terus memantau kondisi dan keselamatan WNI di tengah rentannya kondisi keamanan Lebanon.
"KBRI Beirut telah menjalin komunikasi dengan para WNI di Lebanon, dan sejauh ini, tidak ada WNI yang menjadi korban," kata Direktur Kemlu dalam pernyataan tertulisnya yang diterima di Jakarta.
Berdasarkan data KBRI Beirut, saat ini terdapat 152 WNI yang masih menetap di Lebanon, ucap Judha. Sejak penetapan status Siaga 1, KBRI telah memfasilitasi pemulangan 25 WNI dalam tiga tahap gelombang.
KBRI setempat juga telah menetapkan kondisi Siaga 1 - menandakan kondisi sangat rentan - untuk seluruh wilayah Lebanon sejak 4 Agustus 2024. Status Siaga 1 sebelumnya hanya berlaku di kawasan Lebanon selatan sejak 10 Oktober 2023, usai agresi Israel ke Jalur Gaza.
Namun, sebagian besar WNI di Lebanon yang mayoritas merupakan mahasiswa atau menikah dengan warga setempat, masih memilih bertahan di negara tersebut. Ia mengatakan, KBRI Beirut akan terus menjaga komunikasi intensif dengan para WNI tersebut.
"KBRI Beirut terus mengimbau WNI supaya dapat mengikuti proses evakuasi yang telah dipersiapkan," ucap Judha, menambahkan.
WNI di Lebanon dapat menghubungi KBRI Beirut melalui saluran telepon +961-70-817-310.
Seusai ribuan unit penyeranta (pager) di berbagai wilayah Lebanon tiba-tiba meledak pada Selasa (17/9), ledakan perangkat komunikasi lain seperti protofon (walkie-talkie) dilaporkan kembali terjadi pada Rabu (18/9).
Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan setidaknya 32 orang tewas dan 4.250 lainnya luka-luka, 30 di antaranya dalam kondisi kritis, dalam dua gelombang ledakan perangkat komunikasi itu.
Pemerintah Lebanon dan Hizbullah sama-sama menuduh serangan tersebut didalangi oleh Israel.
Berita Terkait:
-
Cegah Karhutla, BTN Bunaken Tutup Pendakian Gunung Manado Tua
-
Bukan Balapan Biasa! 150 Motor Pelajar Jambi Diamankan Polisi, Ada Senjata Tajam
-
Peragaan Busana Bambu Karya UMKM Promosikan Desa Gintangan
-
Saudi Tuding Houthi Targetkan Mekkah, Kemlu RI Imbau WNI Waspada
-
Abu Vulkanik Gunung Sinabung Selimuti Kota Berastagi, Aktivitas Masyarakat dan Proses Belajar Mengajar Terganggu
-
Iklim Berubah, Ekonomi Harus Ikut Berubah: Bappenas Dorong Ekonomi Hijau
-
SIM Keliling Hari Minggu Hanya Ada di Dua Lokasi, Buka Sampai Pukul 12.00
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.