Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tiongkok Menolak Tandatangani Perjanjian Larangan AI untuk Mengendalikan Senjata Nuklir

📅 Rabu, 11 Sep 2024, 12:26 WIB | Oleh:
Tiongkok Menolak Tandatangani Perjanjian Larangan AI untuk Mengendalikan Senjata Nuklir Doc: Istimewa
Ket. Rudal nuklir antar benua ICBM DF-41 selama parade militer Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1949 di Lapangan Tiananmen di Beijing.

SEOUL - KTT Artificial Intelligence di ranah militer yang berakhir pada hari Selasa (10/9), menghasilkan deklarasi tidak mengikat, yang melarang kecerdasan buatan, yang harus membuat keputusan penting terkait penggunaan senjata nuklir, namun harus dilakukan oleh manusia.

Para pejabat di pertemuan puncak Responsible AI in the Military Domain (REAIM) di Seoul, yang melibatkan hampir 100 negara termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, dan Ukraina, mengadopsi "Cetak Biru untuk Aksi" setelah dua hari perundingan.

Dilansir oleh Fortune, perjanjian tersebut yang tidak mengikat secara hukum, dan tidak ditandatangani oleh Tiongkok, menyatakan bahwa sangat penting untuk "mempertahankan kontrol dan keterlibatan manusia dalam semua tindakan yang berkaitan dengan penggunaan senjata nuklir".

Ditambahkannya, kemampuan AI di ranah militer "harus diterapkan sesuai dengan hukum nasional dan internasional yang berlaku".

"Penerapan AI harus etis dan berpusat pada manusia."

Kedutaan Besar Tiongkok di Seoul tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Secara militer, AI sudah digunakan untuk pengintaian, pengawasan serta analisis dan di masa depan dapat digunakan untuk memilih target secara otonom.

Rusia tidak diundang ke pertemuan puncak karena invasinya ke Ukraina.

Deklarasi itu tidak menguraikan sanksi atau hukuman lain apa yang akan diberikan jika terjadi pelanggaran.


Deklarasi tersebut mengakui bahwa masih ada jalan panjang yang harus ditempuh negara-negara untuk mengimbangi perkembangan AI di ranah militer, dengan mencatat bahwa mereka "perlu terlibat dalam diskusi lebih lanjut untuk kebijakan dan prosedur yang jelas".

KTT Seoul, yang diselenggarakan bersama oleh Inggris, Belanda, Singapura, dan Kenya, menyusul acara perdana yang diadakan di Den Haag pada Februari tahun lalu.

Ini mengklaim dirinya sebagai "platform AI terlengkap dan inklusif di ranah militer".

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
Luar Negeri
Ribuan Orang Berunjuk Rasa ...
Luar Negeri
Korut Luncurkan Sejumlah Mi...
Rona
Dua Bagian Bertolak Belakan...
Advertisement
Dikawal Ketat TNI-Polri, 3.510 Napi Risiko Tinggi Resmi Dipindahkan ke Nusakambangan

Dikawal Ketat TNI-Polri, 3.510 Napi Risiko Tinggi Resmi Dipindahkan ke Nusakambangan

12 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.