Peneliti UGM Dukung Multiprovider Avtur untuk Tekan Harga Tiket Pesawat
Selasa, 06 Agu 2024, 23:29 WIBYogyakarta - Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) Dwi Ardianta Kurniawan mendukung penerapan sistem multiprovider (tidak monopoli) suplai avtur untuk menekan tingginya harga tiket pesawat terbang.
Dwi Ardianta di Kampus UGM, Sleman, Yogyakarta, Selasa, mengatakan sistem multiprovider yang sebelumnya diajukan oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) itu akan mencegah praktik monopoli penjualan avtur di Indonesia.
"Mencegah praktik monopoli, serta mendorong implementasi multi provider BBM penerbangan di bandar udara, sehingga diharapkan tercipta harga avtur yang kompetitif," kata dia.
Selain menerapkan multiprovider avtur, Dwi mengatakan masih diperlukan kebijakan insentif fiskal sebagai solusi mengantisipasi tingginya harga tiket pesawat di Indonesia.
Insentif fiskal itu, menurut dia, dapat diterapkan pada biaya avtur, suku cadang pesawat udara, serta subsidi dari penyedia jasa bandar udara terhadap biaya pelayanan jasa pendaratan.
Berikutnya, penempatan dan penyimpanan pesawat udara (PJP4U),ground handling throughput fee,subsidi atau insentif terhadap biaya operasi langsung, seperti pajak biaya bahan bakar minyak dan pajak biaya suku cadang dalam rangka biaya pemeliharaan.
Komponen pembiayaan perawatan bandara, menurut Dwi, bukanlah pemicu atau penentu harga tiket pesawat menjadi mahal sebab tarif bandara tidak bisa setiap saat dinaikkan karena harus mendapat persetujuan dari Kementerian Perhubungan.
Menurut dia, jika isu tersebut benar dan menjadi penentu, mestinya isu harga avtur mahal akan bisa terjadi setiap saat.
"Kenyataan kan tidak, isu mahal hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu sehingga faktornya pastinya bukan dari bandara. Semua sesungguhnya sangat bergantung pada harga avtur dan nilai tukar rupiah, dan ketersediaan layanan pada rute-rute yang dianggap mahal," ujar dia.
Dwi mengakui harga tiket domestik pesawat di Indonesia rata-rata lebih mahal jika dibandingkan dengan tiket keluar negeri.
Menurutnya, ada beberapa aspek berpengaruh terhadap kondisi tersebut di antaranya persaingan pasar penerbangan internasional rata-rata lebih ketat, ketersediaan armada pasca COVID-19 yang belum pulih sementara permintaan konsumen cenderung sudah kembali normal.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Kenaikan Tiket Masuk Ragunan demi Apa & Siapa? Ini Penjelasannya!
-
Pedagang Pasar Godean dan Disperindag Sleman Bikin Gempar untuk Hidupkan Pasar Rakyat
-
Trump Tolak Perlambatan AI, Perlombaan dengan Tiongkok Jadi Sorotan
-
Menkeu Purbaya Pastikan Kemenkeu Punya Dana Cukup Bayar Utang Kereta Cepat
-
Hitung-hitungan Nasib Timnas Indonesia: Menang Lawan Singapura atau Rontok di Fase Grup!
-
Perum Bulog Sultra Serap Gabah Petani Capai 11.200 Ton hingga Agustus 2026
-
Menkes Serukan Masyarakat Jangan Tunggu Sakit untuk Periksa Kesehatan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.