Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menteri Perdagangan G7 Sepakat Atasi Perdagangan yang Tidak Adil

📅 Jumat, 19 Jul 2024, 00:03 WIB | Oleh:
Menteri Perdagangan G7 Sepakat Atasi Perdagangan yang Tidak Adil Doc: ISTIMEWA
Ket. Juru Bicara G7 - Kami akan terus mengatasi kebijakan dan praktik nonpasar, serta kelebihan kapasitas nonpasar yang merugikan dan mendistorsi pasar lainnya.

ROMA - Para menteri perdagangan dari kelompok tujuh negara maju atau G7, pada hari Rabu (17/7), menyatakan akan menggunakan "instrumen perdagangan" mereka jika diperlukan untuk melawan praktik-praktik yang mendistorsi pasar.

Dikutip dari The Straits Times, para menteri G7 bertemu di Italia Selatan setelah Uni Eropa mengenakan tarif bulan ini pada impor kendaraan listrik buatan Tiongkok dalam upaya melindungi industri otomotif di blok yang beranggotakan 27 negara itu dari kendaraan listrik Tiongkok yang menurut Uni Eropa mendapat subsidi yang besar.

"Kami akan terus mengatasi kebijakan dan praktik nonpasar, serta kelebihan kapasitas nonpasar yang merugikan dan mendistorsi pasar lainnya," kata juru bicara G7 dalam pernyataannya setebal enam halaman, tanpa menyebut Tiongkok secara spesifik.

"Untuk tujuan tersebut, kami tetap berkomitmen untuk menggunakan perangkat perdagangan kami secara efektif jika diperlukan, mengembangkan perangkat baru untuk mengidentifikasi, menantang, dan melawan praktik-praktik ini, dan untuk mempromosikan aturan dan norma internasional yang lebih kuat bersama dengan para mitra," tambahnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan sikap yang lebih keras daripada komunike akhir yang diterbitkan tahun lalu setelah pertemuan menteri G7 di Jepang, yang lebih berfokus pada upaya mencegah proteksionisme dan distorsi pasar ketimbang pada penerapan alat-alat perdagangan.

Aturan Ketat

Selain tarif, instrumen untuk mengekang praktik tidak adil dapat mencakup aturan yang lebih ketat untuk memeriksa investasi asing seperti yang diusulkan UE awal tahun ini.

Inggris, satu-satunya anggota G7 Eropa yang tidak tergabung dalam UE, mengisyaratkan pada hari Selasa bahwa mereka belum siap mengikuti Brussels dalam mengenakan pungutan pada kendaraan listrik Tiongkok, dengan mengatakan bahwa perusahaan mobilnya tidak mengeluhkan adanya praktik tidak adil dari para pesaing.

Para menteri, yang bertemu di wilayah Calabria, Italia Selatan itu, juga mengatakan ketahanan ekonomi memerlukan pengurangan risiko melalui diversifikasi dan pengurangan kebergantungan kritis, yang tampaknya merujuk pada dominasi Tiongkok yang membuat rantai pasokan kritis.

Dalam pernyataannya, G7 mengakui bahwa kebijakan dan praktik nonpasar tidak hanya merusak tatanan ekonomi internasional yang bebas dan adil berdasarkan aturan, tetapi juga dapat memperburuk kebergantungan dan kerentanan strategis, serta menghambat pembangunan berkelanjutan di negara-negara berkembang dan yang baru muncul.

G7 terdiri dari tujuh negara industri maju, yaitu Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat (AS), dan Uni Eropa juga diundang untuk berpartisipasi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.