Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Dokter Sebut Prevalensi Anak Terkena Alergi Susu Sapi Capai 7,5 Persen

📅 Selasa, 25 Jun 2024, 22:41 WIB | Oleh:
Dokter Sebut Prevalensi Anak Terkena Alergi Susu Sapi Capai 7,5 Persen Doc: antara

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi Prof. Dr. Budi Setiabudiawan, SpA(K) menyatakan bahwa prevalensi anak Indonesia yang mengalami alergi susu sapi (ASS) mencapai 0,5 hingga 7,5 persen.

"Ini data dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di tahun 2014 ya, kalau menurut Organisasi Alergi Dunia (WAO) pada tahun 2013 jumlah anak-anak di dunia yang terkena alergi susu sapi mencapai 1,9-4,9 persen," kata Budi dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa.

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran itu juga membeberkan data yang dimiliki klinik anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta di tahun 2012, menunjukkan bahwa 31 persen pasien anak alergi terhadap putih telur dan 23,8 persen lainnya mengalami alergi susu sapi.

"Ini memperjelas bahwa protein susu sapi merupakan makanan penyebab alergi terbesar kedua setelah telur pada anak-anak kita di Asia," kata dia.



Ia menjelaskan bahwa alergi susu sapi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap protein dalam susu sapi yang dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan anak jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Meski lebih banyak kasus terjadi di usia anak, tidak menutup kemungkinan orang dewasa untuk terkena jenis alergi tersebut.

Menurutnya, alergi ini perlu diwaspadai karena angka kejadiannya terus meningkat. Selain itu, gejalanya dapat merugikan tumbuh kembang anak.

Adapun beberapa gejala yang ia sebutkan sering mengenai anak-anak adalah timbulnya ruam, rasa gatal dan sesak nafas. Sementara untuk gejala yang paling sering dikhawatirkan oleh orang tua adalah anak terkena kolik.

Untuk gejala anafilaksis, memang ditemukan dalam beberapa kasus namun tergolong jarang.

"Dari banyak yang ditemukan paling banyak itu kenanya diare ya, 53 persen anak umumnya yang kena alergi susu sapi gejala utamanya pasti diare," ucap dia.

Dengan demikian, Budi meminta orang tua untuk cermat dalam mengenali gejala-gejala tersebut. Ia meminta agar orang tua segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

"Tata laksana dan langkah penting lain yang harus dilakukan oleh orang tua adalah menghilangkan susu sapi dari diet anak, mencari sumber nutrisi alternatif yang memiliki kandungan zat gizi makro seperti karbohidrat, protein, dan lemak, serta kandungan gizi mikro seperti vitamin dan mineral yang dibutuhkan dalam fase pertumbuhan anak. Langkah selanjutnya termasuk membaca label makanan dengan cermat, dan memantau pertumbuhan anak secara rutin," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Halaman Rubrik
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
Olahraga
Janice/Hunter Melaju ke Fin...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.