BPBD: Delapan Meninggal Akibat Tanah Longsor di Sulsel
Jumat, 03 Mei 2024, 17:36 WIBMAKASSAR - Sebanyak tujuh warga meninggal akibat bencana tanah longsor di Desa Buntu Sarek, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, dan satu orang di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel).
"Iya, ada tujuh orang korban meninggal dunia akibat tanah longsor di Kabupaten Luwu," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) SulselAmson Pandolo saat dikonfirmasi wartawan di Makassar, Jumat.
Dari data yang masuk, identitas korban tanah longsor yang meninggal dunia di Desa Buntu Sarekberjenis kelamin perempuan atas nama Rumpak (97), Jatima (55), Mawi (57), dan Sukma (9). Selanjutnya korban laki-laki atas nama Rima (84), Muh Misdar (29) dan Kapila (84). Sedangkan satu korban di Sidrap.
Sejauh ini tim BPBD dan SAR gabungan sedang melakukan evakuasi dan asesmen terhadap para korban terdampak tanah longsor di lokasi kejadian.
Informasisementara yang dihimpun, bencana tanah longsor bukan hanya di Luwu, namun bencana tanah longsor dan banjir terjadi di beberapa kabupaten lain dipicu curah hujan cukup tinggi seperti di Kabupaten Sidrap, Kabupaten Enrekang, dan Kabupaten Wajo.
"Bencana longsor terjadi di Sidrap, Enrekang, Wajo, dan Luwu. Saat ini di Luwu, Kecamatan Latimojong, ada tujuh meninggal, termasuk di Suli dan Suli Barat. Untuk banjir hampir merata di Luwu," paparnya.
Saat ditanyakan berapa jumlah korban dan rumah yang terdampak banjir dan tanah longsor yang tersebar di empat kabupaten tersebut, ia mengatakan sampai saat ini tim sedang merampungkan data serta membantu evakuasi korban bencana alam.
"Belum terdata, karena tim masih fokus melaksanakan evakuasi dan pertolongan, serta belum mendata berapa rumah yang rusak," kata Amson Pandolo.
Pihaknyamemfasilitasi, mengirimkan bantuan, dan melakukan pendataan. "Dalam kebencanaan itu, intinya adalah BPBD setempat, kita satu koordinasi. Jadi apa yang dilakukan BPBD kota, sama dengan kita (BPBD Sulsel)," tuturnya.
Sedangkan dampak bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Enrekang, kata Amson, dari data sementara tercatat 22 titik lokasi sejak Kamis 2 Mei 2024.
"Ada 22 titik bencana baik banjir maupun tanah longsor terjadi di Kabupaten Enrekang, tersebar di delapan kecamatan," katanya.
Untuk ketinggian banjir di 22 titik tersebut bervariasi antara 40 hingga 150 sentimeter. Selebihnya tanah longsor yang menutupi akses jalan Trans Sulawesi dan tidak dapat dilalui kendaraan roda empat.
"Data sampai saat ini masih dihimpun di posko siaga bencana, begitu pula kerugian materiil dari bencana tanah longsor dan banjir masih dalam pendataan," kata Amson Pandolo.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Alfred, Antara
Berita Terkait:
-
Menhan Sudan: Musuh Indonesia Disebut Musuh Sudan, Apa Maksudnya?
-
Kebakaran Melanda TPA Galuga Bogor, TNI AU Kerahkan Helikopter Bantu Padamkan Api
-
Harga Beras Mau Naik Lagi? Pemerintah Tambah 1 Juta Ton Beras SPHP Medium
-
BMKG Catat 15.722 Gempa Susulan di Flores Pascagempa M7,7
-
Temuan Barang di KMP Virgo Transport 8
-
Kemenpar Percepat Pemulihan Destinasi Wisata Terdampak Bencana
-
Tambang Emas Ilegal di Dongi Dongi Sulawesi Tengah Longsor, Tidak Ada Korban Jiwa
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.