Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

G-7 Setujui Kesepakatan Hentikan Penggunaan Batu Bara pada 2035

📅 Kamis, 02 Mei 2024, 00:00 WIB | Oleh:
G-7 Setujui Kesepakatan Hentikan Penggunaan Batu Bara pada 2035 Doc: ISTIMEWA
Ket. G-7

TURIN - Para menteri energi dari negara-negara G-7 pada Selasa (30/4) sepakat untuk mengakhiri penggunaan batu bara dalam pembangkit listrik selama paruh pertama tahun 2030-an.

Namun, dalam komunike resminya itu dimuat tujuan alternatif untuk menghentikan secara bertahap pembangkit listrik tenaga batu bara. Dalam jangka waktu yang konsisten dengan menjaga batas kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius, sejalan dengan jalur net zero di negara-negara tersebut.

"Peringatan tersebut dimasukkan dalam kata-kata terakhir komunike untuk memberikan ruang bagi Jerman dan Jepang untuk bermanuver, yang pembangkit listrik tenaga batu baranya menghasilkan lebih dari seperempat total listrik mereka," kata sumber diplomatik.

Jerman telah menetapkan target akhir dalam undang-undangnya untuk menutup pembangkit listrik tenaga batu bara paling lambat pada tahun 2038, sementara Jepang belum menetapkan tanggalnya.

Perjanjian mengenai batu bara menandai langkah signifikan menuju arah yang ditunjukkan pada tahun 2023 oleh KTT Iklim PBB Conference of the Parties 28 (COP-28) untuk menghapuskan bahan bakar fosil, di mana batu bara merupakan bahan yang paling menimbulkan polusi.

"Hal ini membantu mempercepat peralihan investasi dari batu bara ke teknologi ramah lingkungan, khususnya di Jepang dan secara lebih luas di seluruh perekonomian batu bara Asia, termasuk Tiongkok dan India," ujar Luca Bergamaschi, salah satu anggota pendiri lembaga pemikir perubahan iklim Italia, Ecco.

Mematikan Semuanya

Italia pada tahun 2023 menghasilkan 4,7 persen dari total listriknya melalui enam pembangkit listrik tenaga batu bara yang tersisa. Negara ini berencana mematikan pembangkit listriknya pada tahun 2025, kecuali di Sardinia, yang batas waktunya adalah tahun 2028.

Di Jerman dan Jepang, batu bara mempunyai peran yang lebih besar, dengan pangsa listrik yang dihasilkan oleh bahan bakar tersebut lebih tinggi dari 25 persen total produksi mereka pada tahun 2023.

Italia, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Kanada, dan Jepang juga mengatakan mereka menyadari pemotongan pendapatan energi Russia sangat penting untuk mendukung Ukraina dan berjanji untuk melakukan transisi dari impor gas Russia.

Namun mereka tidak sepakat mengenai posisi bersama mengenai kemungkinan sanksi terhadap gas alam cair Russia.

"Kami memiliki kesepakatan untuk menghentikan penggunaan batubara secara bertahap pada paruh pertama tahun 2030-an," kata menteri Inggris di Departemen Keamanan Energi dan Net Zero, Andrew Bowie.

Dia mengatakan hal tersebut kepada televisi Class CNBC Italia di Turin, tempat pertemuan tersebut.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Olahraga
Formula 1: Antonelli Harus ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.