Menkes Sebut Perubahan Iklim Perlu Diantisipasi untuk Cegah Risiko Pandemi
Selasa, 30 Apr 2024, 08:00 WIBJAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, perubahan iklim perlu diantisipasi melalui sistem kesehatan, karena perubahan iklim dapat mendatangkan penyakit menular, yang berisiko mendatangkan pandemi, serta penyakit tidak menular.
Budi menjelaskan, perubahan iklim dapat memicu penyakit menular karena adanya perubahan interaksi antara hewan dan manusia. Menurutnya, semakin sering perubahan interaksi tersebut terjadi, maka akan semakin besar risiko terjadinya pandemi.
"Misalnya Asia bird flu dari dulu, kemudian ada covid katanya dari kelelawar," ujarnya usai acara penandatanganan komitmen kerja sama dengan Program Pembangunan PBB (UNDP) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jakarta, Senin (29/4).
Dia menjelaskan, sebelum penyakit dari hewan-hewan tersebut tertular ke manusia, seharusnya hewan-hewan tersebut dideteksi patogennya, baik virus maupun bakteri, kemudian diteliti agar ada diagnosis, vaksin, serta obatnya. Kalau dilakukan saat sudah tertular ke manusia, katanya, sudah telat dan biayanya lebih mahal.
Budi mengatakan, perubahan iklim mendorong perubahan perilaku hewan, contohnya nyamuk Aedesaegypti. Oleh karena itu, ujarnya, setiap kali ada El Nino, maka angka kasus dengue naik.
"Dampaknya dari perubahan iklim, El Nino tadi hanya terjadi di daerah tropis. Mungkin bisa terjadi di daerah-daerah lain. Demam berat tadi hanya terjadi di Brazil, Indonesia, dan negara-negara Afrika, mungkin nanti bisa makin lama makin naik ke atas," katanya.
Adapun untuk penyakit tidak menular, katanya, perubahan iklim dapat menyebabkan masalah gizi, karena menyebabkan kenaikan permukaan air laut, sehingga dataran menjadi lebih sempit, padahal jumlah manusia terus bertambah. Hal itu, katanya, menyebabkan lebih sedikit lahan untuk produksi makanan.
"Padahal jumlah manusia kan naik terus. Dulu manusia 100 tahun yang lalu mungkin cuma empat miliar. Sekarang udah delapan miliar. Lima tahun lagi mungkin 9 miliar. Eh, ya 10 miliar. Itu kan perlu makan ya. Makan dan tanahnya makin sedikit," katanya.
Contoh lainnya, kata Budi, adalah kanker kulit. Menurutnya, perubahan iklim dapat membuat lapisan ozon semakin tipis, sehingga radiasi matahari semakin tinggi.
Oleh karena itu, ujarnya, mereka bekerjasama dengan pihak seperti UNDP dan WHO untuk mempersiapkan sistem kesehatan guna menghadapi ancaman-ancaman tersebut.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Bikin Heboh! Syahrini Kembali ke Panggung Setelah 7 Tahun Menepi
-
Kanada Pastikan Tak Bisa Bergabung dengan Uni Eropa
-
Karhutla Makin Mengkhawatirkan, Papua Barat Kembali Perpanjang Status Darurat
-
Kongo Mulai Vaksinasi Ebola untuk 50.000 Petugas Kesehatan
-
63 Bendungan Sudah Terbangun, Perlu Dilanjutkan dengan Penguatan Jaringan Irigasi untuk Swasembada Pangan dan Ketahanan Energi
-
Warga Banyumas Mengeluh karena Harga-harga Kebutuhan Pokok Mulai Naik
-
2 Bulan Antrean Berular di SPBU, Pertamina Sulawesi Bongkar Biang Kerok dan Gandeng Satgas
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.