Jutaan Orang di Amerika Utara Menunggu Gerhana Matahari Total

Selasa, 09 Apr 2024, 00:15 WIB

AUSTIN - Gerhana matahari total akan membuat jutaan orang di wilayah padat penduduk di Amerika Utara memandang ke arah langit, Senin (8/4), dengan Bulan sepenuhnya menghalangi Matahari selama lebih dari empat menit di beberapa tempat.

Gerhana akan terlihat jelas jika cuaca memungkinkan, di sepanjang jalur yang dimulai dari Meksiko dan kemudian melintasi Amerika Serikat hingga Kanada.

Ket. Foto: Wisatawan di Air Terjun Niagara pada 8 April menjelang gerhana matahari total. — Sumber: istimewa

Dikutip dariThe Straits Times, penggemar gerhana berkumpul di berbagai tempat di sepanjang "jalur totalitas", termasuk kota Fredericksburg di Texas tengah, di mana gerhana total akan terjadi setelah pukul 13.30 waktu setempat.

Seorang pemburu gerhana veteran dari New Mexico yang telah menyaksikan 11 gerhana total di seluruh dunia, Michael Zeiler, berencana melakukan hal tersebut.

"Pemirsa yang pertama kali melihat gerhana total akan terkesima dengan pemandangan tersebut. Ini akan menjadi pengalaman puncak dalam hidup," kata Zeiler.

Dengan durasi hingga 4 menit 28 detik, gerhana kali ini akan berlangsung lebih lama dibandingkan gerhana total yang terjadi di sebagian wilayah Amerika Serikat pada tahun 2017, yang berdurasi hingga 2 menit 42 detik.

Terlama 7,5 Menit

MenurutBadan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat atau National Aeronautics and Space Administration (NASA), gerhana total bisa berlangsung antara 10 detik hingga sekitar 7,5 menit.

Beberapa kota yang berada di jalur totalitas, antara lain Mazatlan, Meksiko; San Antonio, Austin dan Dallas, Texas; Indianapolis, Indiana; Cleveland, Ohio; Erie, Pennsylvania; baik Air Terjun Niagara, New York, dan Air Terjun Niagara, Ontario, lokasi air terjun terkenal; dan Montreal, Quebec.

Gerhana sebagian akan terlihat di Amerika Utara di luar jalur totalitas.

Sekitar 32 juta orang di Amerika Serikat hidup dalam jalur totalitas, dan pejabat federal memperkirakan lima juta orang lainnya akan melakukan perjalanan ke sana.

Sementara itu, peristiwa ini akan menjadi gerhana total kesembilan bagi Anthony Aveni, penulis buku In The Shadow Of The Moon: The Science, Magic And Mystery Of Solar Eclipses, dan ahli emeritus fisika dan astronomi, sosiologi dan antropologi di Colgate University di Hamilton, New York.

"Ini merupakan gangguan terhadap status quo alam. Ini adalah interupsi yang membuat Anda takjub," kata Aveni.

Peramal cuaca mengatakan, cuaca bisa berawan di sebagian besar jalur totalitas.

Seorang kartografer dan astronom amatir, Zeiler, mengatakan akan mempelajari citra satelit beberapa jam sebelum gerhana dan akan bergegas jika diperlukan dengan mobilnya pada saat-saat terakhir ke tempat di mana langit diperkirakan akan cerah.

Dia membuat situs web Great American Eclipse, yang berisi peta dan data tentang gerhana.

Diperlukan waktu sekitar 80 menit dari saat Bulan pertama kali mulai menutupi Matahari hingga momen totalitas, kemudian 80 menit lagi untuk menyelesaikan proses sebaliknya.

Para ahli telah menyarankan pemirsa gerhana untuk menggunakan kacamata pelindung matahari untuk mencegah kerusakan mata akibat melihat Matahari dengan mata telanjang. Hanya dalam beberapa menit saja Matahari dapat dilihat dengan aman tanpa kacamata seperti itu.

Para veteran gerhana menggambarkan, 15 menit sebelum gerhana total sebagai firasat, dengan bayangan menjadi sangat tajam dan sinar matahari menunjukkan kualitas yang menakutkan.

Beberapa detik sebelum totalitas, sebuah fenomena yang disebut "pita bayangan" mungkin muncul, bayangan berkilauan di tanah, seperti yang terlihat di dasar kolam renang.

Sisa sinar matahari cemerlang terakhir sebelum totalitas menciptakan "efek cincin berlian", di mana satu titik terang muncul di sepanjang tepi bulan bahkan ketika atmosfer Matahari meninggalkan cincin cahaya di sekitar Bulan.

Aveni mengatakan, setiap gerhana yang dia saksikan telah menimbulkan rasa kagum yang mendalam pada semua orang di sekitarnya yang melihatnya, sehingga memicu rasa kebersamaan.

Dia mengatakan orang-orang sering kali menangis dan memeluk orang asing. "Tidak peduli siapa Anda atau kapan Anda hidup, pemandangan gerhana dimulai dengan rasa takut," kata Aveni.

"Gambaran itu mengejutkan Anda. Ketakutan itu berangsur-angsur berubah menjadi kekaguman dan kemudian menjadi keadaan yang megah," ujarnya.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Kurang dari 50 Meter dan Kualitas Udara Berbahaya

QRIS Menjangkau 65,77 Juta Pengguna, Mayoritas Merchant Merupakan UMKM

Penyerapan Gabah Petani Capai 3,67 Juta Ton, Bulog Dekati Target 4 Juta Ton

Mendadak Gelar Ratas pada Malam Hari di Waktu Libur! Presiden Bahas Karhutla dan Bencana di NTT

Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat

Kegiatan Gratis di HBKB Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Masyarakat

Banten Siapkan Fasilitas Hoki Baru 2027, Target Cetak Atlet untuk PON 2032 hingga

Karhutla di Kalbar Capai 38 Ribu Hektare, BNPB Waspadai Ancaman Bencana Asap

Status Bandara IKN Bakal Diubah Jadi Bandara Umum

TNI Siagakan 73.766 Personel Tangani Karhutla di Berbagai Wilayah.

TNI Salurkan 695,17 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT.

Perlu Audit Nasional PMB Jalur Mandiri PTN Buntut Kasus Unsoed

Kelas Menengah Menyusut Pertanda Kemajuan Pembangunan Indonesia Melambat

Pramono Siapkan 10.000 Bus Listrik untuk Atasi Polusi dan Kemacetan Jakarta

Komandan Lanud Sjamsudin Noor Turun Langsung Padamkan Karhutla di Kalsel

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.