- Home
-
- Luar Negeri
-
- Hasil Studi: Perubahan Ikl...
Hasil Studi: Perubahan Iklim Perlambat Gelombang Panas, Perpanjang Kesengsaraan
Sabtu, 30 Mar 2024, 09:03 WIBwashington - Perubahan iklim menyebabkan gelombang panas melambat, membuat manusia terpapar suhu ekstrem lebih lama dari sebelumnya, menurut penelitian yang diterbitkan di Science Advances pada Jumat (29/3).
Meskipun penelitian sebelumnya menemukan bahwa perubahan iklim menyebabkan gelombang panas menjadi lebih lama, lebih sering, dan lebih intens, makalah baru ini berbeda dengan memperlakukan gelombang panas sebagai pola cuaca berbeda yang bergerak mengikuti arus udara, seperti halnya badai.
Untuk setiap dekade antara tahun 1979 hingga 2020, para peneliti menemukan gelombang panas melambat rata-rata 5 mil (8 km) per jam per hari.
"Jika gelombang panas bergerak lebih lambat, itu berarti panas dapat bertahan lebih lama di suatu wilayah, sehingga berdampak pada masyarakat," kata penulis senior Wei Zhang dari Utah State University kepada AFP.
Para peneliti membagi dunia menjadi sel jaringan tiga dimensi dan mendefinisikan gelombang panas sebagai zona seluas satu juta kilometer persegi di mana suhu mencapai setidaknya persentil ke-95 dari suhu maksimum lokal dalam sejarah. Mereka kemudian mengukur pergerakannya dari waktu ke waktu untuk menentukan seberapa cepat udara panas bergerak.
Mereka juga menggunakan model iklim untuk menentukan dampak apa yang akan terjadi jika tidak ada perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Mereka juga menemukan bahwa faktor buatan manusia merupakan faktor yang sangat berpengaruh.
"Sangat jelas bagi kami bahwa faktor dominan yang menjelaskan tren ini adalah dorongan antropogenik, yaitu gas rumah kaca," kata Zhang.
Perubahan tersebut semakin cepat khususnya sejak tahun 1997 dan selain disebabkan oleh aktivitas manusia, melemahnya sirkulasi udara di atmosfer bagian atas mungkin juga turut berperan, kata hasil penelitian tersebut.
Durasi gelombang panas juga meningkat, dari rata-rata delapan hari pada awalnya, menjadi 12 hari selama lima tahun terakhir masa penelitian.
"Hasilnya menunjukkan bahwa gelombang panas besar yang berlangsung lebih lama dan bergerak lebih lambat akan menyebabkan dampak yang lebih buruk pada sistem alam dan masyarakat di masa depan jika GRK terus meningkat, dan tidak ada langkah mitigasi yang efektif," tulis para penulis.
Zhang mengatakan dia khawatir dengan dampak yang tidak proporsional terhadap daerah-daerah yang kurang berkembang.
"Khususnya, kota-kota yang tidak memiliki infrastruktur ramah lingkungan yang memadai atau tidak memiliki banyak pusat pendingin bagi sebagian masyarakat, khususnya bagi masyarakat yang kurang beruntung, akan sangat berbahaya," katanya memperingatkan.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Cuaca Ekstrem Berpotensi Melanda Banten pada 3-8 Mei, BMKG Minta Warga Waspada
-
Angkasa Pura Indonesia dan AirNav Pastikan Operasional Bandara Soetta Tetap Terkendali Saat Cuaca Buruk
-
Kasad Pastikan Negara Akan Penuhi Seluruh Hak Tiga Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon
-
Buntut Kasus Amsal Sitepu, Kejagung Periksa Jajaran Kejari Karo
-
Asik, Kini Ratusan Pramuwisata Kalbar Terima Tip via QRIS GoPay Merchant
-
Masuki Pancaroba, BMKG Minta Warga Bandung Raya Waspadai Cuaca Ekstrem
-
Cuaca Ekstrem hingga 24 Mei, BPBD DKI Minta Warga Waspada Banjir
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.