Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Penanggulangan Tuberkulosis Perlu Kemitraan Berbagai Pihak

📅 Selasa, 26 Mar 2024, 20:01 WIB | Oleh:
Penanggulangan Tuberkulosis Perlu Kemitraan Berbagai Pihak Doc: istimewa
Ket. TBC

AKARTA - Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, pada 2023 terjadi lebih dari 1.060.000 kasus TBC, termasuk 31.000 kasus TBC Resisten Obat (TRO). Hal ini membuat pengobatan tuberkulosis (TBC) semakin kompleks terutama bagi penderita TBC Resisten Obat (ODTBC-RO) yang menghadapi durasi pengobatan yang panjang dan risiko efek samping obat yang merugikan.

Melihat fakta tersebut Stop TB Partnership Indonesia (STPI), sebuah organisasi yang berkomitmen dalam upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Indonesia, memperkuat dukungan terhadap inisiatif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Hal ini sejalan dengan peran aktifnya dalam memerangi masalah kesehatan masyarakat yang mendesak, termasuk TBC yang tetap menjadi masalah utama di Indonesia.

Ketua Pengurus Yayasan STPI, dr. Nurul N Luntungan mengatakan, STPI mengakui pentingnya kemitraan dan inovasi dalam penanggulangan TBC. Dalam hal ini, STPI berperan dalam memperkuat dukungan dan keterlibatan berbagai pihak dan organisasi kesehatan di Indonesia, termasuk lembaga pemerintah, swadaya masyarakat, organisasi profesi, mitra internasional, BUMN, layanan kesehatan, hingga organisasi mahasiswa.

"Selain itu, STPI juga turut berperan dalam mengedukasi masyarakat tentang TBC dan memobilisasi partisipasi aktif dalam upaya penanggulangan penyakit ini," kata dr. Nurul melalui keterangan tertulis Selasa (26/3).

Dalam upaya memperkuat komitmen penanggulangan TBC di Indonesia, STPI mengadakan berbagai acara dan kampanye. Salah satu yang dilakukan adalah mengadakan kegiatan diskusi edukasi yang mengangkat tema, Menjelang 6 Tahun Target Eliminasi TBC, Indonesia Berkomitmen Perkuat Inovasi & Kemitraan.

Organisasi tersebut juga melibatkan berbagai stakeholder terkait dalam diskusi tersebut, diantaranya Dr. dr. Maxi Rein Rondonuwu, D.H.S.M., M.A.R.S selaku Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit KEMENKES RI, dr. Ahmad Fuady, M.Sc., Ph.D., selaku Peneliti TBC Indonesia, dan Yulinda S. selaku Manajer Kasus TBC RO RSUP Persahabatan, termasuk di Nurul sendiri.

"Tidak dapat dipungkiri bahwa mengatasi tuberkulosis memerlukan upaya keras dan kesabaran yang besar, namun hasilnya adalah kesembuhan yang sangat berharga," ungkapnya.

Selain membutuhkan bantuan obat-obatan dan pengawasan yang ketat, penderita TBC juga harus mendapatkan dukungan secara moril dari kerabat terdekatnya. Peneliti TBC Indonesia dr. Ahmad Fuady, M.Sc., Ph.D., mengatakan tidak ada seorang pun yang menginginkan sakit. Harus diakui, individu yang mengidap tuberkulosis adalah bagian dari masyarakat, oleh karena itu, penting untuk memperkuat aspek pencegahan penyakit guna mengurangi risiko terkena penyakit tersebut.

"Namun ketika sudah terjadi, kolaborasi dalam proses penyembuhan menjadi kunci penting. Melihat adanya kerja keras antara pemerintah, organisasi non nirlaba, lembaga masyarakat dan lain-lain dalam memerangi penyakit TBC ini, hal ini tentunya patut diapresiasi," paparnya.

Perwakilan Kementrian Kesehatan RI dr. Tiffany Tiara Pakasi, MA menyatakan terima kasih atas semua upaya yang telah dilakukan untuk menekan angka tuberkulosis di Indonesia. Ia berharap semoga di masa pemerintahan yang baru, dapat mempertahankan prestasi ini dan terus berkomitmen untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.

Manajer Kasus TBC RO RSUP Persahabatan Yulinda mengharapkan STPI selaku Organisasi Non-Profit yang berfokus pada penyakit TBC akan bisa terus menerus menjadi jembatan untuk memberantas tuberkulosis untuk menuju Indonesia yang lebih sehat. Ia berharap STPI dapat bekerja sama dengan berbagai pihak di kemudian hari, seperti dari instansi pemerintah maupun sektor swasta, dalam upaya menurunkan angka kejadian tuberkulosis.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Toko-toko di Bordeaux bersi...
Luar Negeri
Kenaikan Harga BBM Picu Aks...
Megapolitan
Pasar pangan murah menjangk...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.