Terpanas dalam 174 Tahun, Suhu Rata-rata pada 2023 Capai 1,45 Derajat Celsius
Kamis, 21 Mar 2024, 00:00 WIBJAKARTA - World Meteorological Organization/WMO atau Organisasi Meteorologi Dunia menyatakan pada 2023 lalu merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat yang disertai dengan tingkat panas lautan yang juga mencapai tingkat tertinggi.
Sekjen WMO, Celeste Saulo, mengatakan laporan WMO State of the Global Climate 2023 mengonfirmasi bahwa 2023 merupakan tahun terpanas dengan rata-rata temperatur global 1,45 derajat Celsius atau di atas rata-rata pra-industri. Temperatur tahun lalu juga menjadi rekor terpanas dalam catatan yang sudah dilakukan 174 tahun, mengalahkan rekor pada 2016 yang tercatat mencapai 1,29 derajat Celsius di atas rata-rata pra-industri.
"Belum pernah kita sedekat ini, meski hanya sementara, dengan batas bawah 1,5 derajat Celsius Perjanjian Paris tentang perubahan iklim," kata Saulo dalam keterangan yang diterima Antara, di Jakarta, Rabu (20/3).
Dalam sehari, hampir sepertiga dari lautan global mengalami gelombang panas laut yang berdampak terhadap ekosistem penting dan sistem rantai makanan. Menuju akhir 2023, lebih dari 90 persen lautan mengalami kondisi gelombang panas laut di titik tertentu.
Rata-rata permukaan laut global mencapai rekor tertinggi. Laju kenaikan permukaan air laut dalam sepuluh tahun terakhir atau periode 2014-2023 meningkat lebih dari dua kali lipat sejak dekade pertama pencatatan satelit pada 1993-2002.
Gas Rumah Kaca
Konsentrasi tiga gas rumah kaca (GRK), yaitu karbondioksida, metana, dan dinitrogen oksida mencapai rekor tertinggi pada 2022, dengan data menunjukkan di beberapa lokasi memperlihatkan kenaikan kembali pada 2023.
Level CO2 lebih tinggi 50 persen dibandingkan masa pra-industri, sehingga memerangkap panas di dalam atmosfer. Tingkatan CO2 tersebut berarti temperatur akan terus naik dalam beberapa tahun ke depan.
"Perubahan iklim tidak hanya terkait temperatur. Apa yang kita saksikan pada 2023, khususnya dengan pemanasan laut, penyusutan gletser dan hilangnya laut es Antartika juga menjadi kekhawatiran," kata Saulo.
Kendati demikian, dia menyebut ada secercah harapan untuk meredam pemanasan global yaitu pembangkit energi terbarukan secara global terutama yang menggunakan tenaga matahari, angin, dan air telah menjadi yang terdepan dalam upaya iklim karena potensinya dalam mengejar capaian target dekarbonisasi.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Kanada Pastikan Tak Bisa Bergabung dengan Uni Eropa
-
Samuel Eto’o Minta Federasi Sepak Bola Afrika Dukung Gianni Infantino
-
Kongo Mulai Vaksinasi Ebola untuk 50.000 Petugas Kesehatan
-
Pemkab Lebong Anggarkan Dana Rp2,8 Miliar untuk Pemasangan Penerangan Jalan Umum
-
Lautaro Martinez Putuskan Bertahan di Inter Milan, meski Diincar Barcelona
-
Kisah Tragis Orangutan Sempurna di Ketapang, Ditemukan Kritis hingga Akhirnya Mati.
-
Padukan Seni, Teknologi, dan AI: Sampoerna University Pamerkan 11 Proyek Akhir Mahasiswa VCD
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.