Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemerintah Harus Pastikan Program Bansos Redam Kesulitan Rakyat

📅 Senin, 18 Mar 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah Harus Pastikan Program Bansos Redam Kesulitan Rakyat Doc: Sumber: Kementerian Keuangan - KJ/ONES

JAKARTA - Upaya pemerintah mengimpor beras melalui Bulog yang disalurkan untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dinilai belum efektif menstabilisasi harga pangan. Bahkan beras subsidi yang diperuntukkan buat rakyat yang kurang mampu, malah banyak disalahgunakan pedagang.

Para pedagang di beberapa tempat mengoplos beras bantuan tersebut dengan mengganti kemasan menjadi beras premium, kemudian dijual dengan harga yang mahal. Para oknum pedagang yang mengoplos tersebut memanfaatkan peluang itu karena lemahnya pengawasan pemerintah, terutama Bulog dan Badan Pangan Nasional (Bapanas), dalam mendistribusikan bantuan sosial itu.

Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (17/3), meminta pemerintah memastikan program bantuan sosial (bansos) dapat meredam tekanan ekonomi yang dihadapi rakyat. Apalagi, saat ini harga kebutuhan pokok masih tinggi.

"Untuk rumah tangga miskin dan sangat miskin, pemerintah perlu memastikan seluruh program bansos terjangkau oleh mereka. Sebab, kenaikan harga kebutuhan pokok akan semakin menyulitkan kondisi perekonomian mereka," kata Said.

Dia menyebutkan harga beras di pasar internasional masih tinggi, yakni 17,8 dollar AS per kuintal. Meski turun bila dibandingkan Februari yang sebesar 19 dollar AS per kuintal, namun harga itu masih lebih tinggi dari catatan 2022 dan 2023.

Demikian pula dengan harga gula yang masih tercatat sebesar 22 dollar AS per pound, lebih tinggi dari rata-rata harga tahun lalu yang berada di kisaran 18-22 per pound.

Sementara itu, sejumlah bahan pangan lainnya, seperti jagung, kedelai, gandum, dan daging di pasar internasional menunjukkan tren penurunan. "Kalau jangka pendek ketersediaan tidak bisa dipenuhi di dalam negeri, tentu tak ada pilihan selain impor. Namun, skema impornya juga harus diubah dari skema kuota menjadi tarif, untuk menjaga kegiatan impor dari perburuan rente," kata Said.

Dia juga menilai pemerintah perlu menggelar operasi pasar berskala besar untuk mencegah risiko penurunan daya beli masyarakat.

Sebelumnya, Badan Pangan Nasional atau Bapanas menyalurkan bantuan pangan beras bagi 22 juta keluarga penerima manfaat (KPM) pada tahun ini. Pada tahun ini terdapat anggaran sekitar 440 miliar rupiah, ditambah ada tambahan sekitar 6,8 triliun rupiah untuk bantuan pangan yakni bantuan pangan beras untuk tiga bulan pertama.

Selain bantuan pangan, Bapanas juga pada tahun ini menyalurkan bantuan untuk 1,4 juta keluarga risiko stunting. Kemudian, ada juga enam bulan untuk bantuan keluarga berisiko stunting yang dikerjakan oleh Holding BUMN Pangan ID Food bagi sekitar 1,4 juta keluarga, berdasarkan data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Dampak Positif

Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengatakan salah satu tujuan bantuan sosial adalah menjaga daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.

Bansos baik langsung tunai dan beras harus memberikan dampak positif terhadap daya beli masyarakat yang berhak menerima. "Selama ini masih belum efektif karena sejumlah masalah. Paling utama dan krusial adalah pendataan," tegas Huda.

Menurut dia, banyak masalah exclusion dan inclusion error dalam pendataan bansos. Maka dari itu, masih terdapat kemiskinan ekstrem di sejumlah daerah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

24 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

33 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
Olahraga
Formula 1: Antonelli Harus ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.