Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Waspadai Dampak Resesi di Negara-negara Maju ke Indonesia

📅 Selasa, 05 Mar 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Waspadai Dampak Resesi di Negara-negara Maju ke Indonesia Doc: ISTIMEWA
Ket. YB SUHARTOKO Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus dikelola secara benar dan hati-hati dengan memfokuskan pembiayaan pada program prioritas yang berdampak ganda.

JAKARTA - Pemerintah baru yang akan dilantik pada Oktober 2024 mendatang sudah dihadapkan pada kondisi ekonomi global yang kian menantang, terutama dengan resesi ekonomi di beberapa negara maju, seperti Jepang dan Inggris.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, mengatakan resesi ekonomi yang melanda Jepang akan berdampak terhadap ekonomi Indonesia. Hal itu karena negara Matahari terbit itu merupakan negara tujuan ekspor Indonesia ketiga setelah Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). Nilai ekspor Indonesia ke Jepang pada 2022 tercatat sekitar 24,8 miliar dollar AS.

"Kondisi resesi ekonomi Jepang pasti akan menurunkan ekspor Indonesia," kata Suhartoko.

Sebaliknya, beberapa industri otomotif di Indonesia banyak mengimpor barang barang dari Jepang. Impor barang dari Jepang juga menempati posisi ketiga setelah Tiongkok dan Singapura. Adapun nilai impor RI dari Jepang sekitar 17,18 miliar dollar AS.

Menurut Suhartoko, kondisi resesi di Jepang berpotensi menurunkan ekspor Jepang ke Indonesia dan tentu saja berpengaruh terhadap pertumbuhan industri yang berbahan baku impor dari Jepang. Berkaitan dengan itu, potensi penerimaan negara dari pajak juga akan terganggu.

"Bisa saja ada efek menular resesi ekonomi Jepang terhadap negara mitra dagangnya ke depan," katanya.

Dalam kondisi resesi, upaya peningkatan penerimaan negara melalui pajak adalah suatu pekerjaan yang sangat berat, bahkan kalau perlu pajak harus diturunkan dan pengeluaran pemerintah dinaikkan.

"Oleh karena itu, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus dikelola secara benar dan hati-hati dengan memfokuskan pembiayaan pada program prioritas yang berdampak ganda atau multplier effect," pungkas Suhartoko.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, memaparkan bahwa selain Jepang dan Inggris, ekonomi Jerman juga dikhawatirkan dapat jatuh ke dalam resesi karena sudah berkontraksi selama satu kuartal.

Kinerja ekonomi Jerman pada kuartal I-2024 akan menentukan Jerman jatuh ke dalam resesi atau tidak. Dengan skala ekonomi Jerman yang terbesar di zona Euro, jika pada akhirnya ekonominya harus resesi, tentu berimplikasi ke ekonomi global.

Resesi yang telah melanda Jepang dan Inggris mungkin saja menular ke negara lain seperti Jerman yang dipastikan menekan ekonomi negara berkembang, termasuk Indonesia. Apalagi, sudah diperkirakan sebelumnya akan apa yang dialami Jepang dan Inggris sebagai puncak gunung es.

Beberapa negara berkembang yang berisiko dilanda resesi adalah Malaysia, Thailand, Rumania, Lithuania, Jerman, dan Kolombia. Keenam negara yang tercatat menghadapi risiko resesi paling besar, yakni bila PDB kuartal pertama 2024 mengalami kontraksi.

"Risiko Indonesia untuk mengalami resesi memang masih rendah. Namun tidaklah tepat bila terlalu percaya diri dengan rendahnya probabilitas Indonesia untuk mengalami resesi," jelas Aloysius.

Porsi ekspor Indonesia ke Jepang, Inggris, dan Jerman memang tidak sangat tinggi, khususnya bila dibandingkan ke Tiongkok, Asean, dan AS.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.