Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Cakram Langit Nebra, Kalender Masyarakat Agraris Zaman Perunggu

📅 Jumat, 01 Mar 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Cakram Langit Nebra, Kalender Masyarakat Agraris Zaman Perunggu Doc: Christian Reinboth

Zaman perunggu sebelum masa prasejarah, masyarakat agraris Eropa telah menciptakan alat sebagai perhitungan astronomi untuk menentukan waktu tanam dan panen. Hasil kajian dari temuan Cakram Langit Nebra menyimpulkan piringan ini berfungsi sebagai jam astronomi-astrologi yang kompleks untuk sinkronisasi kalender Matahari dan Bulan.

Cakram Langit Nebra (Nebra Sky Disc) adalah salah satu temuan arkeologi yang paling menarik dan kontroversial dalam beberapa tahun terakhir. Bertanggal 1600 SM, piringan perunggu ini memiliki diameter 32 sentimeter dengan berat sekitar 2 kilogram.

Memiliki patina warna biru-hijau timbul dengan simbol daun emas yang tampaknya mewakili bulan sabit, matahari (atau mungkin bulan purnama), bintang, pita emas melengkung. Selanjutnya di bagian atas tepi piringan yang mungkin mewakili salah satu cakrawala (pita emas lain di sisi berlawanan telah hilang).

Benda tersebut ditemukan pada 1999 oleh pemburu harta karun yang menggunakan detektor logam di kandang prasejarah yang mengelilingi Bukit Mittelberg, dekat Kota Nebra di hutan Ziegelroda, berjarak 180 kilometer barat daya Berlin, Jerman.

Sayangnya, para pemburu harta karun yang ceroboh menyebabkan kerusakan besar pada piringan tersebut selama pengambilannya secara kasar dari tanah. Ini termasuk pecahnya tepi luarnya, kehilangan salah satu bintangnya, dan terkelupasnya sebagian besar piringan emas tersebut.

Para penjarah kemudian berusaha menjual piringan tersebut, bersama dengan dua pedang, dua kapak, sebuah pahat, dan pecahan gelang tangan, kepada para arkeolog setempat. Namun mereka segera mengetahui bahwa menurut hukum, benda-benda tersebut adalah milik Negara Bagian Sachsen-Anhalt, tempat benda-benda tersebut digali, sehingga tidak dapat dijual secara legal.

Seperti disebutkan sebelumnya, piringan tersebut menggambarkan bulan sabit, matahari atau bulan purnama, tiga busur, dan 23 bintang yang tersebar di sekelilingnya, tampaknya secara acak. Ada gugusan tujuh bintang lainnya, yang diidentifikasi sebagai konstelasi Pleiades atau Rasi Bintang Tujuh.

Sinar-X telah mengungkapkan dua bintang lagi di bawah emas pada busur kanan, menunjukkan bahwa kedua busur tersebut ditambahkan lebih lambat dari fitur lainnya. Latar belakang langit malam yang berwarna biru kehijauan pernah diwarnai dengan warna biru ungu tua.

Untuk menciptakan warna biru ungu tua, sang pembuat mengoleskan telur busuk sehingga menimbulkan reaksi kimia pada permukaan perunggu. Di sepanjang tepi piringan tersebut terdapat lingkaran lubang yang dilubangi logam, mungkin untuk menempelkan piringan ke sesuatu, mungkin sepotong kain tebal.

Jadi apa sebenarnya Cakram Langit Nebra itu dan untuk apa gunanya? Banyak peneliti percaya bahwa ini adalah representasi tertua dari kosmos yang pernah ditemukan. Mungkin juga semacam alat perhitungan astronomi untuk menentukan waktu tanam dan panen.

Selama ribuan tahun di seluruh Eropa utara, monumen-monumen disejajarkan untuk menandai titik balik matahari musim panas dan musim dingin. Stonehenge di Wiltshire, Inggris dan Newgrange di Irlandia adalah contoh paling terkenal dari penandaan musim itu.

Karena masyarakat Zaman Perunggu adalah masyarakat agraris, metode untuk mengetahui waktu dalam setahun dan juga waktu yang tepat untuk menanam serta memanen tanaman, jelas sangat penting. Salah satu caranya adalah yang digunakan dengan mengidentifikasi posisi matahari saat terbit dan terbenam.

Penasaran dengan kemungkinan piringan Nebra sebagai perangkat astronomi-astrologi, Profesor Wolfhard Schlosser dari Universitas Bochum, mengukur sudut antara sepasang busur di kedua sisi piringan. Mereka menemukan bahwa sudutnya adalah 82 derajat.

Menariknya, di Bukit Mittelberg, antara posisi matahari terbenam yang tinggi di pertengahan musim panas dan posisi matahari terbenam yang rendah di pertengahan musim dingin, matahari tampak bergerak sekitar 82 derajat di sepanjang cakrawala.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Rona
7 Drama Korea Baru Wajib Di...
Ekonomi
Sompo Indonesia selenggarak...
Luar Negeri
Dua Kapal Tanker Minyak Dis...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.