- Home
-
- Luar Negeri
-
- Bangkitnya Kota Tacloban S...
Bangkitnya Kota Tacloban Satu Dekade Usai Bencana Topan Super Haiyan
Sabtu, 11 Nov 2023, 02:15 WIBSeorang janda asal Filipina, Agatha Ando, kini bisa ??kembali tertawa satu dekade setelah Topan Super Haiyan menerjang Filipina tengah yang menewaskan lebih dari 6.000 orang dan menyebabkan jutaan orang kehilangan tempat tinggal.
Embusan kencang topan super itu merobohkan rumah-rumah dan menumbangkan pepohonan dan gelombang mirip tsunami yang ditimbulkan oleh topan itu melenyapkan sebagian besar masyarakat miskin pesisir pada tanggal 8 November 2013.
Suami Ando dan tiga saudara kandungnya menolak, meninggalkan rumah mereka di Kota Tacloban yang berjarak kurang dari 100 meter dari laut dan mereka meninggal bersama empat anaknya ketika air dan puing-puing menimpa mereka.
Saat topan reda, jasad mereka yang hancur segera dibungkus dengan selimut basah atau terpal bekas, lalu dikubur beberapa meter dari tempat rumah Ando kini berdiri.
"Saya sekarang bisa tertawa lagi, tapi saya tidak akan pernah melupakannya," kata Ando, ??57 tahun, yang selamat karena mengindahkan peringatan resmi untuk pergi ke daratan sebelum badai melanda.
Sepuluh tahun kemudian, kuburan massal keluarga tersebut adalah salah satu dari sedikit pengingat akan kehancuran di Tacloban, ibu kota Provinsi Leyte. Tacloban menanggung beban terberat dari kemurkaan Haiyan dan harus dibangun kembali hampir dari awal. Kini, kota ini tampak seperti kota lain di Filipina, dengan jalanan yang macet dan restoran yang ramai. Sebuah tembok laut sepanjang 18 kilometer (11 mil) bahkan telah dibangun di sepanjang pantai untuk melindunginya dari gelombang badai di masa depan.
"Saya pikir kita sudah pulih sepenuhnya," kata Wali Kota Tacloban, Alfred Romualdez, kepadaAFPsaat kunjungannya baru-baru ini ke kota berpenduduk sekitar 280.000 orang itu. Saat Filipina bersiap memperingati 10 tahun malapetaka Topan Haiyan, Romualdez mengatakan para penyintas memang telahmove ondari bencana tersebut. "Tetapi saya rasa mereka tidak akan pernah lupa," kata dia.
Para ilmuwan telah lama memperingatkan bahwa embusan topan akan menjadi lebih dahsyat karena suhu dunia menjadi lebih panas akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia.
Filipina, yang biasanya mengalami lebih dari 20 badai besar dalam setahun, memiliki banyak pengalaman dalam menangani bencana. Namun hal itu tidak membuat negara ini siap menghadapi salah satu topan terkuat yang pernah tercatat.
Embusan Topan Haiyan memiliki kecepatan hingga 315 kilometer per jam yang meratakan kota-kota di wilayah pulau-pulau sepanjang 600 kilometer. Rumah-rumah dan bangunan-bangunan di pesisir pantai yang tadinya dianggap cukup aman untuk digunakan sebagai pusat evakuasi di Pulau Leyte dan Samar, dibanjiri gelombang badai setinggi lima meter.
Sekitar 6.300 orang tewas dan satu dekade kemudian lebih dari seribu orang masih hilang. Sedangkan ada lebih dari empat juta orang kehilangan tempat tinggal.
Sejak malapetaka Topan Haiyan, Filipina berinvestasi dalam sistem peringatan dini, teknologi pesan teks massal, dan aplikasi publik untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang berpotensi berbahaya, kata pejabat bencana dan cuaca kepadaAFP. Peta bahaya yang digunakan oleh lembaga pemerintah juga diperbarui secara berkala, peringatan cuaca dikeluarkan lebih awal dan dalam bahasa lokal, dan evakuasi preventif merupakan praktik standar.
Doa untuk Korban
Banyak orang yang terbunuh di Tacloban tinggal di dekat laut dalam gubuk semi permanen yang terbuat dari kayu dan lembaran besi bergelombang. Oleh karena itu pemerintah Filipina sejak itu telah menghancurkan banyak kawasan kumuh dan memindahkan sekitar 14.000 keluarga ke lokasi relokasi yang jauh dari jangkauan gelombang badai.
Meskipun relokasi ke rumah beton lebih aman dibandingkan gubuk semi permanen, beberapa lokasi masih kekurangan air bersih. Ando juga mendapat jatah rumah di kawasan perbukitan, tapi dia belum pernah bermalam di sana. Sebaliknya, dia membangun kembali rumahnya di sebidang tanah yang sama di dekat laut tempat dia tinggal sepanjang hidupnya dan memiliki banyak kenangan.
Pada Rabu lalu, Ando turut memperingati peristiwa bencana Topan Haiyan seperti yang dilakukannya setiap tahun, mengumpulkan keluarga dan tetangga di dekat kuburan massal untuk berdoa.
Enam kerabatnya masih hilang, diperkirakan tewas, dan salah satu putranya menderita cacat permanen akibat badai.
"Kami tidak tahu apa itu gelombang badai saat itu," kata dia. "Sekarang kalau ada angin topan, kami langsung mengungsi," imbuh dia.AFP/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.