Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ayo Jaga Kesehatan, Ternyata Kanker Jadi Penyakit Biaya Tertinggi Kedua Setelah Jantung

📅 Kamis, 26 Okt 2023, 00:07 WIB | Oleh: Tim Penulis
Ayo Jaga Kesehatan, Ternyata Kanker Jadi Penyakit Biaya Tertinggi Kedua Setelah Jantung Doc: ANTARA/ Anita Permata Dewi
Ket. Paparan yang disampaikan Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) Iene Muliati dalam acara Forum Diskusi Denpasar 12 bertajuk "Pekerjaan Rumah dalam Memperingati Bulan Kesadaran Kanker Payudara", di Jakarta, Rabu (25/10/2023).

Jakarta - Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) menyebut bahwa kanker termasuk kasus dengan biaya tertinggi kedua setelah penyakit jantung dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dengan biaya mencapai Rp4,3 triliun.

"Penyakit kanker di Indonesia ini memang termasuk berbiaya tinggi setelah jantung," kata Anggota DJSN Iene Muliati di Jakarta, Rabu.

Iene Muliati mengatakan tren biaya kanker dalam JKN kecenderungannya meningkat.

"Ada penurunan, tapi bukan karena mereka lebih sehat, tapi karena ada dampak dari pandemi sehingga banyak orang tidak mengakses fasilitas kesehatan saat pandemi," katanya.

Hingga September 2023, prosedur medis kanker payudara ringan masuk 10 kasus terbanyak dalam perawatan rawat inap tingkat lanjut. "Kalau dilihat dari biaya, ini sekitar Rp786 miliar," katanya.

Berdasarkan data WHO 2020, kanker payudara adalah kejadian kanker tertinggi di Indonesia, yakni sebesar 16,7 persen dan tingkat kematian tertinggi kedua, yakni sebesar 11 persen, setelah kanker paru-paru.

Iene Muliati mengatakan dari data WHO tersebut, kesimpulannya tingkat kesembuhan/ketahanan orang yang menderita kanker payudara di Indonesia, kecil.

"Karena realita tingkat kematiannya tinggi 11 persen," katanya.

Hal ini salah satunya karena keterlambatan pengobatan.

"Orang-orang baru berobat setelah mencapai tingkatan yang akut dimana pengobatan sudah agak terlambat sehingga tingkat mortalitas (kanker payudara) di Indonesia cukup tinggi," katanya.

Kesadaran masyarakat terhadap penyakit kanker yang masih rendah juga menjadi salah satu penyebab tingginya jumlah kasus.

Menurut Iene Muliati, kebanyakan orang merasa ketakutan atau malah menghindar ketika didiagnosa menderita penyakit kanker atau memiliki potensi kanker.

"Secara psikologis, jika seseorang mendengar kata kanker itu sesuatu yang sangat menakutkan. Sehingga kebanyakan orang menghindar ketika didiagnosa berpotensi kanker dan harus menjalaniskrining-skriningdini," katanya.

Hal ini merupakan tantangan dalam sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang kanker dan bagaimana upaya menghadapinya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Nasional
Pengungkapan Narkotika Keta...

Kemeriahan Gebyar PAUD Yogyakarta 2026

4 jam yang lalu | Fajar Alim M

Daerah
Kemeriahan Gebyar PAUD Yogy...
Megapolitan
Pelatihan Mengemudi Becak L...
Olahraga
Ganda Campuran Indonesia Ra...
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.