Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Terlambat Deteksi, Menkes: Mayoritas Kematian Akibat Kanker Terjadi di Negara Berkembang

📅 Minggu, 27 Agu 2023, 01:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Terlambat Deteksi, Menkes: Mayoritas Kematian Akibat Kanker Terjadi di Negara Berkembang Doc: ANTARA/Astrid Faidlatul Habibah
Ket. Menteri Kesehatan Budi Gunadi dalam seminar berjatuk Precision Oncology Symposium: Addressing Diagnostic Gaps in Personalized Cancer Care, di Jakarta, Sabtu (26/8/2023).

Jakarta - Terlambat deteksi, Menteri Kesehatan Budi Gunadi menyatakan hampir 70 persen kematian akibat kanker di dunia terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia karena didiagnosis pada stadium lanjut.

"Hal ini terjadi karena dua dari tiga pasien kanker di Indonesia didiagnosis pada stadium lanjut," katanya dalam seminar berjatuk Precision Oncology Symposium: Addressing Diagnostic Gaps in Personalized Cancer Care, di Jakarta, Sabtu.

Padahal, Budi menuturkan, 30 persen sampai 50 persen kanker bisa diobati jika ditemukan di awal sedangkan kebanyakan pasien didiagnosis ketika sudah pada stadium akhir.

Ia menjelaskan, diagnosis kanker yang terlambat salah satunya disebabkan oleh kurangnya jumlah dokter spesialis dan alat kesehatan yang menyebabkan antrian panjang dan waktu tunggu yang lama.

"Itu menyebabkan akses ke pelayanan rujukan kanker amat terbatas," ujar Budi.

Tak hanya itu, kemampuan tenaga kesehatan untuk mendiagnosis kanker juga belum optimal yang menyebabkan kurangnya kualitas pelayanan di rumah sakit.

Sementara itu, ia mengatakan pendekatan diagnosis kanker perlu mengikuti perkembangan teknologi terbaru karena pemeriksaan kanker berbasis genetik dapat membantu pemeriksaan kanker secara dini, akurat, dan tepat.

Pengembangan layanan precision medicine juga penting dalam mendeteksi risiko kanker secara dini, mendeteksi biomarker obat demi terapi yang presisi.

Namun upaya menanggulangi kanker secara masif dan terintegrasi memerlukan dukungan semua pihak dan peran dari organisasi profesi, swasta, dan organisasi masyarakat sebagai mitra.

"Pembangunan kesehatan nasional terus dibutuhkan untuk mencapai tujuan bersama dalam menyehatkan bangsa," katanya.

Salah satu contoh kanker paling umum dan mematikan adalah kanker paru-paru yang bertanggung jawab atas lebih banyak kematian dibandingkan gabungan kanker payudara, kolorektal, dan prostat.

Pada diagnosis kanker paru, pengambilan sampel kini dihadapkan pada serangkaian tantangan termasuk keterbatasan ketersediaan instrumen dan kurang optimalnya integrasi antar-disiplin ilmu yang relevan.

Konsultan Patologi Anatomi di RS dr. Sardjito mengatakan Didik Setyo Heriyanto mengatakan untuk meningkatkan efisiensi penanganan kanker paru dibutuhkan kolaborasi multidisipliner sejak fase awal.

Kolaborasi multidisipliner tersebut melibatkan para ahli dari bidang paru onkologi, patologi anatomi, dan radiologi onkologi untuk memastikan akuisisi informasi yang mendalam sekaligus optimasi dalam pengambilan sampel untuk evaluasi laboratorium.

Pendekatan kolaboratif ini berpotensi mempercepat hasil pemeriksaan, mengurangi durasi yang awalnya lebih dari dua minggu menjadi lima sampai 10 hari.

"Dengan kecepatan respons yang meningkat, pasien memiliki akses dini pada terapi target seperti EGFR, ALK, dan imunoterapi PD-L1, disamping pilihan terapi konvensional lainnya," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Nusron Wahid Dua Kali Mangk...
Nasional
Uji Coba Pendaratan Pesawat...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.