Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemilih Perempuan Dinilai Rentan Terkena Politik Uang

📅 Minggu, 14 Mei 2023, 15:08 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pemilih Perempuan Dinilai Rentan Terkena Politik Uang Doc: ANTARA/Louis Rika
Ket. KPU Madiun melakukan sosialisasi pemilih perempuan di Madiun, pada 23 November 2022.

JAKARTA - Direktur Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia Neni Nur Hayati menyampaikan, berdasarkan penelitian yang dilakukannya, ditemukan bahwa pemilih perempuan rentan terkena politik uang.

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilih perempuan memang rentan terkena politik uang," kata Neni, dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (14/5).

Ia pun menyampaikan selain kurangnya literasi mengenai regulasi kepemiluan serta edukasi politik, pemilih perempuan rentan terkena politik uang karena mereka memang cenderung tetap menerima uang itu meskipun mengetahui bahwa politik uang dilarang.

Dalam penelitian bertajuk "Money Politics and Regression of Democracy: Women Voters Vulnerability in Transactional Politics (Case Study of 2020 Regional Elections In Indonesia)" itu, Neni terlebih dahulu melakukan pra-riset pada April - Mei 2021.

Dalam tahapan pra-riset, penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif, yaitu dengan menguji teori disonansi kognitif dengan melibatkan populasi yang memiliki karakteristik yang ditentukan olehnya untuk melihat kebenaran mengenai pemilih perempuan yang selalu menjadi objek dalam politik uang dari kandidat kepala daerah.

Berikutnya, riset dilakukan pada Juni - Desember 2021 dengan pendekatan campuran, yaitu menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Penelitian tersebut lalu dipaparkan oleh Neni dalam acara "9th World Conference on Woman's Studies 2023" di Bangkok, Thailand, Kamis (11/5) hingga Jumat (12/5).

Lebih lanjut, berdasarkan penelitian itu, Neni lantas mengategorikan pemilih ke dalam lima tipe. Pertama, pemilih yang menikmati politik uang. Kedua, pemilih yang menolak politik uang,.tetapi menerima politik uang. Ketiga, pemilih yang menolak politik uang dan menghindarinya, tetapi tidak mau melaporkan.

Berikutnya, pemilih menolak politik uang dan mau melaporkannya. Kelima, pemilih yang menyaksikan politik uang dan mengetahui informasi serta berani melaporkan.

Dari lima kategori tersebut, Neni menemukan kategori satu dan dua mendominasi pemilih yang menjadi subjek penelitiannya.

"Menariknya, pemilih yang menikmati politik uang serta pemilih yang menolak politik uang tetapi menerimanya yang paling mendominasi adalah pemilih perempuan. Selain itu, pemilih kita tidak lebih darisupporter, sebagaimana dalam permainan bola," kata Neni.

Pemilih yang ia teliti, lanjut Neni, memandang kampanye bukan merupakan wadah untuk mencari pendidikan politik, mendalami visi dan misi calon, melainkan lebih untuk mendapatkan kaos dan uang transportasi.

Menurut Neni, praktik politik uang dan kerentanan pemilih perempuan menerima uang itu menjadi tantangan yang perlu ditaklukkan di Pemilu dan Pemilihan Serentak 2024. Ia menilai sosialisasi tentang larangan politik uang perlu dihadirkan secara lebih masif oleh penyelenggara pemilu dan pihak terkait lainnya, terutama kepada kelompok rentan seperti perempuan.

"Saya juga berharap partai politik bisa menjadi garda terdepan dalam memerangi dan memutus politik uang yang selama ini menjadi hal lumrah di masyarakat," kata dia.

Selain itu, tambah Neni, ke depan penyelenggara pemilu perlu memiliki data lokasi tempat pemungutan suara (TPS) yang rentan terhadap politik uang. Neni lalu mendorong peserta Pemilu Serentak 2024 untuk lebih mengedepankan politik gagasan daripada menghalalkan segala cara demi meraih kemenangan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Harga Energi dan Biaya Hidu...
Megapolitan
Dana Cadangan, Pramono Usul...
Luar Negeri
G7 Akan Lepas 100 Juta Bare...

PBB akan Alokasikan Dana untuk 12 Krisis Kemanusiaan

36 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
PBB akan Alokasikan Dana un...
Luar Negeri
Korsel Usulkan Dialog denga...
Luar Negeri
PBB Serukan Negara-negara T...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.