• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Lebih Dekat dengan 'Megant...

Lebih Dekat dengan 'Meganthropus Paleojavanicus'

Sabtu, 13 Mei 2023, 06:25 WIB

Sangiran adalah situs arkeologi menjadi menjadi salah satu situs yang paling penting di dunia. Situs berupa kubah (dome) pertama kali ditemukan pada 1883 oleh PEC Schemulling. Di sini ia hanya menemukan fosil hewan vertebrata atau hewan bertulang belakang di Dukuh Kaliyoso, Desa Jetis Karangpung, Kecamatan Kalijambe yang berada di bagian kubah dari situs Sangiran.

Setelah itu Marie Eugène François Thomas Dubois (Eugene Dubois) seorang ahli anatomi berkebangsaan Belanda juga melakukan eksplorasi pada akhir abad ke-19. Namun ia tidak tidak terlalu intensif karena kemudian ia memusatkan aktivitas di kawasan Trinil, Kabupaten Ngawi.

Ket. Foto: — Sumber: pariwisatasolo.surakarta.go.id

Pada 1934, ahli antropologi Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald memulai penelitian di area tersebut. Setelah mencermati laporan-laporan berbagai penemuanbalung butaatau tulang raksasa oleh warga dan diperdagangkan. Saat itu perdagangan fosil mulai ramai akibat penemuan tengkorak dan tulang pahaPithecanthropus erectus(Manusia Jawa) oleh Eugene Dubois di Trinil, Ngawi pada 1891.

Untuk mendapatkan fosil manusia purba, von Koenigswald meminta penduduk untuk mencaribalung buta. Warga yang mendapatkannya akan mendapat imbalan agar tidak jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab.

Pada tahun-tahun berikutnya, dari hasil penggalian menemukan berbagai fosilHomo erectuslainnya. Ada sekitar 60 lebih fosilHomo erectusatau hominid lainnya dengan variasi yang besar, termasuk seriMeganthropus paleojavanicusartinya manusia raksasa dari Jawa, telah ditemukan di situs tersebut dan kawasan sekitarnya.

Meganthropus paleojavanicusberasal dari katamegayang berarti besar,anthropusyang bermakna manusia,paleoberarti tertua, danjavanicusartinya Jawa. Ciri-cirinya adalah tulang pipi tebal kening menonjol, tidak memiliki dagu, gerahamnya besar-besar, berbadan tegap, memiliki bentuk gigi homonim, memakan tumbuh-tumbuhan dan memiliki otot kunyah sangat kuat.

Selain manusia purba, ditemukan pula berbagai fosil tulang-belulang hewan-hewan bertulang belakang (vertebrata), seperti buaya (kelompokgavialdanCrocodilus), hippopotamus (kuda nil), berbagai rusa, harimau purba, dan gajah purba (stegodondan gajah modern).

Temuan-temuan di situs Sangiran bisa dilihat di klaster Museum Purbakala Sangiran Klaster Krikilan, di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Klaster Krikilan merupakanvisitor centeryang memberikan informasi umum tentang Situs Sangiran. Sementara Klaster Krikilan, Klaster Dayu, Klaster Bukuran, Klaster Ngebung, dan Museum Manyarejo, memberi informasi sesuai yang ditemukan di tempat tersebut.

Koleksinya Klaster Krikilan bisa dibilang menjadi surga bagi penggemar sejarah karena di museum ini tersimpan ribuan koleksi peninggalan zaman purbakala. Museum ini menyimpan informasi cukup lengkap tentang pola kehidupan manusia prasejarah di Jawa, yang memberi banyak sumbangsih bagi perkembangan ilmu antropologi, arkeologi, geologi, dan paleoantropologi.

Di sini tersimpang berbagai fosil-fosil makhluk prasejarah, alat batu yang digunakan untuk bertahan hidup di alam. Museum Purbakala Sangiran memiliki lima klaster yaitu Klaster Krikilan, Klaster Dayu, Klaster Bukuran, Klaster Ngebung, dan Museum Manyarejo.

Di lima klaster museum tersebut tersimpan banyak peninggalan diantaranya adalahAustralopithecus africanus,Pithecanthropus mojokertensis(Pithecantropus robustus),Meganthropus palaeojavanicus,Pithecanthropus erectus,Homo soloensis,Homo neanderthal Eropa,Homo neanderthal Asia, danHomo sapiens.

Berbagai fosil mamalia yang ditemukan di kawasan Museum Purbakala Sangiran diantaranya adalah gajah purba sepertiElephas namadicus,Stegodon trigonocephalus, danMastodon sp. Terdapat juga fosil dariBubalus palaeokarabau(kerbau),Felis palaeojavanica(kucing),Sus sp. (babi),Rhinoceros sondaicus(badak),Familia Bovidae(sapi), danCervus sp.(rusa).

Beberapa fosil binatang air yang juga ditemukan di Situs Sangiran diantaranya adalahCrocodilus sp. (buaya),Hippopotamus sp. (kuda nil),Chelonia sp. (kura-kura), ikan dan kepiting, gigi ikan hiu, moluska (PelecypodadanGastropoda), sertaforaminifera.

Berbagai alat batu yang digunakan untuk mendukung kehidupan manusia purba yang ditemukan diantaranya adalah serpih, bilah, serut, gurdi, kapak persegi, bola batu, dan kapak perimbas-penetak. Di samping itu ditemukan berbagai batu-batuan langka yang ditemukan di Situs Sangiran juga turut dipamerkan di Museum Purbakala Sangiran. Batuan itu antara lain meteorit atautaktit,diatome,kalsedon,ametis, danagate.

Klaster Bukuran berada di Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Museum ini memiliki tema Evolusi Manusia dan Lingkungan. Pada bagian pertama disajikan keanekaragaman makhluk hidup di atas bumi saat ini.

Salah satu koleksi yang dipamerkan di Klaster Bukuran adalah diorama rekonstruksi tiga tipeHomo erectusyang pernah hidup di Jawa. Sedangkan di ruang bawah Museum Klaster Bukuran terdapat peninggalan fosil manusia purba yang berasal di Situs Sangiran maupun fosil manusia purba dari situs Paleoantropologi di seluruh dunia.

Museum Sangiran Klaster Ngebung terletak kurang lebih 3 kilometer di sebelah utara Klaster Krikilan. Situs Ngebung ini memiliki nilai historis yang tinggi karena di sanalah dilakukan penelitian secara sistematis untuk pertama kalinya. Di klaster ini ditampilkan para peneliti dalam upaya mengeksplorasi potensi Situs Sangiran oleh tokoh seperti Raden Saleh, JC Van Es, Eugene Dubois, dan GHR Von Koenigswald disajikan dengan informasi secara visual maupun digital yang interaktif.

Berada di Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, Klaster Ngebung didirikan sebagai bentuk apresiasi terhadap peneliti dari berbagai disiplin ilmu dan juga masyarakat Sangiran yang telah melakukan penelitian. Pada klaster ini terdapat bangunan museum yang menampilkan audio visual yang berisi ungkapan warga Sangiran sebagai penemu-penemu fosil.

Klaster Dayu berada di Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar. Klaster ini dikenal sebagai situs yang penting karena terdapat banyak jejak kehidupan masa lampau seperti fosil fauna, manusia beserta budayanya, serta rekaman perubahan lingkungan Situs Sangiran.

Keberadaan stratigrafi Dayu yang cukup lengkap mampu menggambarkan evolusi lingkungan sejak Sangiran berupa rawa hingga menjadi daratan. Terdapat pula ruang diorama serta ruang pamer yang menyajikan berbagai fosil dan bukti penemuan perkakasHomo erectustipe Arkaik. hay/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.