Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mahasiswa ITS Gagas Adat Suku Tengger sebagai Healing Tourism

24 Selasa, 04 Apr 2023, 20:06 WIB | Oleh:
Mahasiswa ITS Gagas Adat Suku Tengger sebagai Healing Tourism Mahasiswa ITS Gagas Adat Suku Tengger sebagai Healing Tourism Doc: Istimewa
Ket. Enam sensibilitas kultur yang dapat menjadi potensi pengembangan healing tourism pada Suku Tengger yaitu berkebun, berkumpul di dapur, bertamu menjelang senja, berjemur diri, megeng, dan berkelana.

SURABAYA - Saat ini kegiatan untuk menghilangkan atau menurunkan tingkat stres di masyarakat kian meningkat dan hal tersebut berpotensi menjadi sebuah wisata penyembuhan atau healing tourism. Melihat fenomena tersebut, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melakukan riset terkait sensibilitas kultur adat Suku Tengger yang ada di Jawa Timur dan potensinya sebagai healing tourism berbasis kearifan lokal di Indonesia.

Ketua tim penggagas, Mukhammad Akbar Makhbubi, mengatakan bahwa potensi pengembangan healing tourism pada Suku Tengger adalah masyarakat dan budayanya. Dalam mencapai ketentraman dan kesejahteraan, masyarakat Suku Tengger hidup dengan mengabdikan diri pada aturan adat yang dikenal dengan larangan malima (lima 'ma') serta pedoman walima (lima 'wa').

Mahasiswa yang kerap disapa Bobi ini menerangkan, larangan malima tersebut adalah maling atau mencuri, main atau berjudi, madat atau mengonsumsi narkoba, minum atau mengonsumsi minuman keras, dan madon atau berzina. Serta walima (lima 'wa') yaitu waras atau sehat, wareg atau cukup makan, wastra atau cukup sandang, wisma atau memiliki rumah, dan wasis atau bijaksana.

Selain itu, Suku Tengger berada di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang menjadi salah satu atensi pariwisata Provinsi Jawa Timur. "Keberadaan masyarakat Tengger yang hidup berdampingan dengan kawasan TNBTS dapat menjadi potensi dalam pengembangan healing tourism," jelas mahasiswa Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITS tersebut.

Ia memaparkan, dari hasil riset di Desa Adat Ngadisari, Kabupaten Probolinggo dan Desa Adat Wonokitri, Kabupaten Pasuruan terdapat enam sensibilitas kultur yang dapat menjadi potensi pengembangan healing tourism pada Suku Tengger. Kultur tersebut terdiri atas lunga atau berkebun, gegeni atau berkumpul di dapur atau tungku perapian, sanja atau bertamu menjelang senja, memidang atau berjemur diri, megeng atau meditasi, dan dedolan atau berkelana.

Lebih lanjut, jelas Bobi, kultur tersebut merupakan cara masyarakat Suku Tengger dalam memaknai budaya dan kegiatan sehari-harinya. Dengan melakukan kegiatan itu dapat menimbulkan rasa senang, tenang, ikhlas, terbuka, dan damai dari masyarakat adat Suku Tengger. "Kegiatan tersebut dinilai mampu mengurangi emosi negatif dan menjadi referensi pengembangan healing tourism," ungkapnya.

Selanjutnya, kultur tersebut disusun menjadi satu rangkaian kegiatan dengan konsep cultural-healing tourism. Adapun konsep tersebut memuat pencarian makna, pengurangan emosi negatif, dan keseimbangan interaksi. "Konsep ini akan membawa wisatawan untuk dapat merasakan pengalaman healing dari kultur sehari-hari masyarakat adat Suku Tengger," tambah Bobi.

Bobi bersama empat rekannya dari Departemen PWK ITS berharap riset ini dapat berkembang sebagai bentuk kesiapan masyarakat dan infrastruktur penunjang wisata. Di bawah bimbingan Arwi Yudhi Koswara ST MT, tim tersebut juga telah berhasil meraih Juara 2 Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2022 lalu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Homepage Mobile Atas
Advertisement
Homedec Homepage
Luar Negeri
Kemlu: Dua WNI Turut Jadi K...

UNDP Desak Percepatan Investasi Hijau

36 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
UNDP Desak Percepatan Inves...

Lisa Blackpink Rilis Video Musik “Tarantino”

39 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Rona
Lisa Blackpink Rilis Video ...
Luar Negeri
Tiongkok Tetapkan Status Si...

NASA: El Nino 2026 Mirip Peristiwa 1997

54 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
NASA: El Nino 2026 Mirip Pe...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

24 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.